Blog Siswa
Seruni
SERUNI
Tak biasanya bel berdering amat bising. Seluruh warga sekolah menyumbatkan sesuatu ke dalam telinga mereka guna meredam bising dari bel yang korslet sejak 5 menit lamanya.
Kepala Sekolah tampak panik dan kebingungan juga menyaksikan apa yang terjadi dialami di sekolahnya. Ia mulai merogoh tasnya mengambil kunci mobil Avanza-nya untuk menuju ke suatu tempat, ke kantor layanan PLN terdekat untuk melaporkan apa yang terjadi di sekolah.
Kepala Sekolah berjalan dengan gesitnya menuju parkiran dengan diiringi bisingnya suara bel yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Namun langkahnya terhenti ketika seorang siswi kelas XII memberhentikan langkahnya.
“Ibu Herlina!” seru gadis itu memanggil Kepala Sekolah.
“Seruni? Ada apa kamu panggil ibu?” Kepala Sekolah heran.
Si gadis hitam manis itu menjawab sambil menelan ludahnya, “Begini, bu. Ibu gak usah repot-repot pergi ke PLN. Lagipula itu menyita waktu. Bisa-bisa warga sekolah di sini bisa tuli semua, bu! Permisi!”
Seruni berlari ke arah belakang dan meninggalkan Ibu Herlina, Kepala Sekolah. Ia mulai berbuat sesuatu. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, dan mungkin ini adalah tindakan yang menurutnya extreme.
Seruni segera mengambil sebuah tangga dan beberapa peralatan seperti obeng dan tang. Ia menuju sumber dari kebisingan. Ia segera naik ke atas di mana bel itu berada. Tanpa penutup telinga dan pengaman lain, Seruni mulai membuka sekrup bel dan memperbaikinya kembali.
Semua warga sekolah berhamburan ke luar menyaksikan tindakan aneh Seruni itu. Semua orang heran melihat tindakannya Seruni naik tangga, karena Seruni adalah orang yang phobia terhadap ketinggian, tapi entah mengapa kini ia senekad itu, sepertinya ia dipaksa oleh pihak lain.
Kemudian suasana menjadi hening, hening semua. Tidak ada sepatah kata pembicaraan, apalagi suara bel. Namun, dari salah satu sudut terdengar tepukan kecil yang semakin lama semakin menggema ke seluruh penjuru sekolah. Ya, mereka bertepuk tangan atas tindakan Seruni yang berhasil memperbaiki bel sekolah yang mengganggu pendengaran. Seruni telah menjadi pahlawan kebisingan di sekolah itu.
SERUNI
Eps. #2
Seruni bersikap biasa saja, bahkan ia tidak merasa di hargai meski di sekelilingnya jutaan pasang telapak tangan yang memberikan penghargaan kepadanya dengan bertepuk tangan. Ia masuk ke kelas dengan sikap yang dingin.
Mulanya, para guru dan Kepala Sekolah beranggapan bahwa tindakan Seruni tadi dinilai tidak sopan, namun mereka lebih berfikir lagi. Ada yang tidak beres pada gadis berwajah ke arab-araban dan berambut ikal panjang itu. Para guru bukannya kesal atau kecewa, justru prihatin.
Kembali ke ruang kelas, Seruni melihat keadaan sekelilingnya. Sepi, tidak ada orang, karena waktu menunjukan jam istirahat. Dalam kesempatan itu, Seruni memanfaatkan waktu istirahat dengan mendengar musik.
Ia mulai mengambil Blackberry Torch dan Headset dari dalam tasnya, memasangkan di kedua telinganya dan memutar musik Jazz, Sleep Away. Seruni belum mendengar apa-apa, volume suara ditingkatkan dari 1 ke 3. Masih belum mendengar apa pun, ditingkatkan lagi ke tingkat 4, tidak mendengar apa-apa juga. Seruni mulai kesal, ia meninggikan volume suaranya menjadi tingkat paling besar. Hasilnya tetap sama, Seruni malah mendengar suara gemuruh-gemuruh kecil saja, bukan musik Jazz-nya. Dengan terpaksa, ia melepas headset dan menghubungkan ponsel mahalnya itu ke speaker kecil. Musik mulai menggema ke sudut ruangan kelas. Seiring itu, para siswa yang lain berhamburan masuk kelas karena waktu istirahat telah habis dan Bu Noni, akan memulai pelajaran Fisika. Tapi, sikap Seruni masih saja seperti itu. Ia sibuk dengan musiknya yang tidak ia dengar sejak awal, meski di sekelilingnya menutup kembali telinga mereka karena musik Jazz yang nyaring menggema.
Ibu Noni marah kepada Seruni, “Seruni, cepat matikan musiknya! Kamu gak tahu apa, ini waktu belajar, bukan mendengar musik!” namun, tampaknya kata-kata ibu Noni itu bagaikan air yang mengalir pada sebuah gorong-gorong. Sikap Seruni tidak berubah. Kalau Bella tidak menegurnya dengan tepukan, mungkin Seruni akan terus sibuk dengan musiknya.
“Kenapa, Bel? Aku lagi sibuk, nih! Dari tadi perasaan musiknya tidak terdengar! Apa kamu bisa memperbaikinya?” Seruni membalas tepukan Bella, sahabatnya. Bella tidak bicara, melainkan mengarahkan kedua bola matanya menuju ibu Noni yang berdiri tegak sambil bertelak pinggang, mengerutkan alisnya pada Seruni.
SERUNI
Eps. #3
“Seruniiiiii...!!” ibu Noni berteriak sekali lagi. Seruni tidak mendengar teriakan itu. Ia kaget dengan sikap bu Noni yang menunjukan wajah marahnya pada Seruni.
“Seruni, sudah berapa kali ibu bilang, ini waktu belajar, bukan main musik!” marah bu Noni dengan kata-kata yang begitu jelas membentuk gerakan bibirnya.
Seruni tersenyum sedikit sambil bergumam, “Lho, kenapa Ibu Noni bicaranya seperti itu, ya? Kok gak ada suaranya? Tapi gerakan bibirnya jelas banget!” Rupanya bukan hanya musik Jazz yang tak ia dengar, tapi suara ibu Noni yang sedemikian kencangnya tidak terdengar oleh Seruni.
“Ke...kenapa, bu?”
“Pakai nanya segala, lagi! Lihat kelakuan kamu! Apa kamu tidak sadar apa yang kamu perbuat? Saya sudah hampir 10 menit berdiri di sini meneriakki kamu dan memerhatikan tingkah kamu yang tidak sopan!”
Seruni tidak tahu apa yang ibu Noni bicarkan. Ia hanya sekedar mengucapkan kata maaf. Karena itulah jawaban yang paling tepat di saat ada orang yang memarahinya.
“Maaf? Apakah kata maaf kamu itu cukup mengganti waktu pembelajaran kita?” ibu Noni semakin naik darah. Semakin Ibu Noni marah, Seruni semakin tidak mengerti apa yang di bicarakan.
Tak terasa, waktu sudah habis. Dan waktu bu Noni pun habis memarahi gadis yang tidak tahu apa yang ia bicarakan, apa yang ia keluarkan dari bibirnya, bahkan tidak tahu kalau ia sesekali menghina Seruni.
Saatnya para siswa kembali ke rumah masing-masing. Tapi, pelan-pelan ibu Noni perhatikan kalau memang ada yang tidak beres pada Seruni. Semenjak Seruni memperbaiki bel sekolah yang lumayan menimbulkan trauma pada kebisingan, sikapnya menjadi dingin dan ia tidak merasa di sapa, meski puluhan orang di sekolah meneriakkinya. Dan, rasa kesal ibu Noni perlahan berbuah menjadi rasa prihatin.
SERUNI
Eps. #4
Lalu, ibu Noni mengambil inisiatif untuk melapor kepada ibu Herlina, Kepala Sekolah.
“Ada apa, bu Noni?” tanya Ibu Herlina yang tengah sibuk menghitung data-data siswa yang berkekurangan di ruang kerjanya.
“Begini, bu Herlina. Seruni itu sikapnya aneh semenjak ia memperbaiki bel sekolah. Sikapnya menjadi masa bodoh ketika ditegur orang. Dan ia tidak mendengar apa saja yang saya katakan.” Kata ibu Noni.
“Hmmm... dari awal saya sudah duga, bu. Sepertinya ada yang tak beres pada anak itu.”
“Maksud bu Herlina?” heran Ibu Noni.
“Ya, mungkin saja Seruni mengalami... gangguan telinga atau tuli, bu.”
Mendengar kata ibu Herlina tadi, ibu Noni jadi prihatin dan merasa bersalah karena sudah memarahi Seruni, semestinya ia memakluminya.
---
SERUNi-Eps. 5
Seruni mulai melangkahkan kakinya ke luar sekolah. Namun, Seruni mendengar suara gemuruh-gemuruh kecil yang meraung-raung di telinganya yang menandakan akan hujan. Langsung saja ia memberi peringatan pada anak-anak yang tengah latihan basket di lapangan.
“Hey, sebaiknya kalian pulang! Hari sudah mau hujan!” teriak Seruni pada anak-anak basket yang tengah asyik latihan di siang hari.
“Hujan? Masak siang bolong panas terik begini mau hujan? Udah gila kali, lo!” salah seorang di antara mereka menghina Seruni.
Seruni menghiraukan mereka, ia tetap fokus mengambil payung kecil dari tasnya dan menuju parkiran mobil. Suara gemuruh-gemuruh itu masih meraung-raung di telinganya.
Bunyi alarm dari mobil Honda City berwarna hitam menandakan bahwa Seruni telah membuka knock pintu mobilnya yang dikunci. Seruni segera masuk ke dalam mobilnya yang wangi parfurm kesukaannya, parfum beraroma Strawberry. Seruni langsung menghidupkan mesin mobil. Mobil pun berjalan.
Jarak antara sekolah dengan rumahnya lumayan jauh. Maka dari itu, ia harus melalui ruas-ruas jalan protokol di ibu kota, jalan Tol dalam kota, dan rintangan yang terberat, kemacetan.
Ia akhirnya tiba di persimpangan Gunung Sahari, Jakarta. Batas waktu lampu hijau sudah habis, maka mau tak mau Seruni harus menunggu waktu lampu merah yang berjalan 2 menit. Kebetulan, mobil Seruni berada di barisan paling depan.
EPS. 6
Waktu yang singkat itu ia manfaatkan untuk membaca majalah kesehatan. Kebetulan, ada sebuah tajuk yang menarik perhatiannya berkenaan dengan tema ‘Kesehatan Telinga dan Gangguannya’. Dengan tatapan mata yang serius, ia memerhatiakan setiap huruf yang berbaris pada selembar halaman majalah.
Tidak terasa, waktu lampu merah telah habis. Namun Seruni tidak menyadarinya, ia terlalu asyik membaca majalah. Suara klakson dari kendaraan lain saling bersahutan menegur mobil Seruni. Seruni tidak mendengar suara klakson-klakson itu.
Akhirnya, rintangan terberat yang harus ia hadapi di lalu lintas, kini ia ciptakan sendiri. Dengan begitu, sebuah kemacetan di sekitar ruas jalan Gunung Sahari macet, macetnya kian parah hingga menuju Pasar Senen. Itu semua akibat kelalaian Seruni. Padahal, jalanan di depannya kosong.
Akhirnya, anggota dari kepolisian Polda Metro Jaya menghampiri TKP dan menegur pelaku pembuat kemacetan.
“Mbak, tolong hentikan semuanya, Mbak! Anda sudah membuat jalanan menjadi macet! Jakarta sudah macet, Mbak. Tolong jangan ditambah-tambah lagi.” Tegas Briptu Herlambang, anggota kepolisian.
Seruni masih asyik menelan halaman-halaman majalah kesehatan itu. Ia merasa sedang berada di rumah, bahkan kalau saja ia tak melihat sosok polisi di kaca, mungkin ia sudah tertidur.
“I...iya... iya, pak. Kenapa?” Sadar Seruni sambil membuka kaca mobilnya.
Episode 7
Briptu Herlambang segera menegur Seruni. Seruni pun sadar. Namun ia tersadar bukan karena ucapan kata-kata Polisi itu, melainkan isyarat yang diberikan polisi itu, yakni tangan polisi menunjuk ke arah lampu lalu lintas.
“Oh... i...iya, pak. Saya minta maaf.” Sadar Seruni dengan terbata-bata.
“Ya, lain kali jangan gegabah. Sudah, melaju sana! Dari tadi sudah macet gara-gara kamu!” nasihat Briptu Herlambang.
Seruni akhirnya melaju. Mobil Seruni melaju kian kencang. Ia berani menerobos mobil-mobil yang melaju di lajur kiri. Namun, ada masalah pada mobilnya. Perlahan, mobilnya melaju pelan, pelan dan semakin pelan. Seruni sudah menekan pedal gasnya dengan kencang, tapi sepertinya mobil Seruni mogok.
Tepat di belakang Mobil Honda City-nya, sudah ada sebuah Bus Mayasari Bakti AC yang besar sedang melaju kencang. Bus itu sudah beberapa kali berklakson, namun Seruni tidak mendengar apapun selain gemuruh-gemuruh itu.
Akhirnya, kecelakan pun terjadi. Mobil Seruni bagian belakang hancur dan nyaris terbakar. Untungnya, Seruni berhasil diselamatkan. Namun keadaannya cukup parah. Kakinya mengalami cidera yang cukup serius karena tergencat oleh desakan mobil bagian belakang yang tertabrak bus. Ia pun dibawa warga ke Rumah Sakit dengan didampingi Briptu Herlambang yang bertugas tak jauh dari TKP.
Episode 8
Sebuah rumah mewah di Jalan Kenari 1 Kawasan perumahan elit di Jakarta Barat tampak sepi. Hanya seorang janda paruh baya yang tinggal bersama putrinya. Dua anaknya yang lain telah menikah dan mereka memiliki tempat tinggal sendiri.
Janda itu tengah menunggu kepulangan putrinya dari sekolah. Ia duduk di beranda sambil merenungi hidupnya yang bergelimang harta warisan almarhum suaminya yang meninggalkannya 17 tahun lalu. Ia tidak pernah merasa bahagia dengan itu semua, karena untuk apa hidup dipenuhi harta apabila tidak didampingi suaminya. Setiap hari ia hanya berharap anaknya pulang sekolah dengan waktu yang cepat.
Tiba-tiba suara telepon mengagetkannya. Ia segera menuju ruang tengah dan mengangkat telepon.
“Halo, selamat siang...” katanya membuka salam di telepon.
Tak lama kemudian, tangannya bergetar, air mata mulai mengucur dari kelopak matanya, badannya melemas, dan ia menjatuhkan telepon. Wanita itu segera menuju Rumah Sakit atas dasar pemberitahuan tentang kabar buruk di telepon tadi.
Dengan harapan yang positif, ia berusaha menenangkan dirinya.
”Dengan Ibu Tantri?” tanya Briptu Herlambang pada janda bernama Tantri itu.
“Iya, saya ibu Tantri, ibunya Seruni.” Rupanya janda itu adalah ibunda Seruni.
Dan, dengan berat polisi itu menyatakan yang sebenarnya kalau Seruni mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya cidera cukup parah. Tantri tak kuasa menahan kesedihan yang dialami Seruni.
“Apa penyebab dari kecelakaan itu, Pak?” tanya Tantri dengan sedikit merintih.
Episode 9
“Sepertinya penyebabnya bukanlah Seruni mabuk atau maksud tertentu. Dan setelah teridentifikasi, menurut dokter ada masalah pada pendengarannya sehingga Seruni tidak mampu mendengar frekuensi suara kalkson bus yang menabraknya. Permisi, bu” Jelas Briptu Herlambang.
“Ya Allah... kenapa anakku bisa begini...” rintih Tantri. Kemudian, ia menelepon kakak-kakaknya Seruni, Anna dan Rudi, ia melaporkan kejadian atas apa yang menimpa adik bungsu mereka.
Akhirnya mereka datang bersama suami dan istri mereka.
“Gimana, Mi? Seruni sudah sekarat apa belum?” tanya Anna dengan judes.
Ya, Rudi dan Anna memang tidak suka pada Seruni, karena mereka sering sekali dilupakan oleh ibu mereka sendiri karena Seruni. Tantri merasa kasihan pada Seruni, karena Seruni menjadi yatim ketika ia lahir. Dan yang lebih membuat mereka geram lagi, jika Tantri meninggal maka 1/3 harta warisannya milik Seruni.
“Kamu kok bicara seperti itu, Anna?” Tantri mulai emosi dan beranjak dari kursi.
“Ya jelas aja, mami. Kan kabarnya Seruni itu kondisinya parah. Ya... wajar aja kalau memangnya Seruni akan dipanggil...” sambung Eva, istrinya Rudi.
“Cukup! Cukup! Kalau kalian hadir di sini hanya berharap Seruni mati, mendingan kalian keluar dan pergi dari sini! Dasar anak-anak durhaka!” marah Tantri. Ia mengusir kedua anaknya dan kedua menantunya.
Episode 10
Sambil berjalan keluar, mereka berempat berunding. “Kalau Seruni sampai meninggal, maka mami akan memberikan harta warisan seutuhnya untuk kita!” ujar Anna semangat.
“Betul, kak. Tapi... kalau dia hidup, mami tetap pada pendiriannya. Yakni ia tetap memberikan sepertiga hartanya untuk Seruni.” Kata Eva, adik ipar Anna.
“Bagaimana, dong...” sambung Rudi.
Namun, di sela-sela itu ada juga yang tidak sependapat dengan Anna, Rudi dan Eva. Yakni Evan, suami Anna. Dia justru merasa prihatin terhadap apa yang menimpa Seruni. “Anna, Eva, Rudi! Sudah cukup! Kalian itu tidak bosan-bosannya berbicara buruk terhadap Seruni. Dia kan adik kalian!” lerai Evan.
“Alaaah... kamu jangan basa-basi, mas. Dalam hatinya kamu juga berharap dia mati, kan?” sindir Anna.
“Tidak, Anna! Saya sama sekali tidak seperti kalian! Yang hanya ingin harta, harta dan harta!” kesal Evan.
Tantri masih menangis dan merenungi sikap anak-anaknya tadi yang membuatnya malu di depan umum. Namun, ada lengan seseorang yang memberikannya sebuah tissu.
“Dihapus dulu air matanya, tante.” Kata Bella, gadis yang menyodorkan tissu tadi.
“Ah, makasih, Bella. Kamu dengan siapa?”
Bella menunjuk ke belakang, “Dengan Silvi, Arman dan Rendy. Kita semua prihatin atas apa yang menimpa Seruni.”
Tantri heran, mengapa Bella bisa tahu hal ini? Ia segera menanyakan hal itu pada Bella, namun Bella beralasan bahwa pihak polisi telah memberitahukan pihak sekolah. Tapi kenyataannya, dalam dompet Seruni, tidak ada nomor telepon sekolah.
Episode 11
“Hmmm... gitu aja deh tante. Kita gak lama-lama. Cuma buah-buahan ini saja yang bisa kita kasih buat Seruni. Permisi, tante.” Bella berpamitan dengan Tantri sambil memberikan bingkisan berupa buah-buahan. Dan Bella pergi bersama 3 temannya yang dari tadi hanya diam kaku tanpa ekspresi.
Begitu keluar Rumah Sakit, Silvi langsung bicara, “Kenapa kamu berani melakukan ini pada Seruni, Bel?”
“Emang gue melakukan apa?” balas Bella sambil bertelak pinggang. Ekspresi wajahnya sangat berbeda ketika saat ia berbasa-basi terhadap Tantri atas kejadian kecelakaan Seruni.
“Masa’ lo gak nyadar? Lo udah merusak bel sekolah dan menyuruh Seruni memperbaikinya. Akibatnya dia jadi tuli sekarang!” tegas Arman.
“Apa maksud lo, Bel?” tanya Rendy.
“Semenjak Seruni bergabung sama kita dan menjadi sahabat kita baru-baru ini, semua orang jadi memihak pada dia karena tingkahnya yang bikin orang simpati sama dia! Sedangkan gue, gue yang dari dulu dipuji, disanjung, hanya dibiarkan jadi sampah! Dan gue gak akan tinggal diam. Jadi itu alasan gue mencelakai Seruni dan bikin dia jadi cacat!” Rupanya dibalik ketulian Seruni, Bella yang menjadi biang penyebabnya. Dia sudah menyuruh Seruni memperbaiki bel sekolah yang sudah ia rusak, sehingga frekuensi bel yang terlalu besar menyebabkan Seruni tuli.
Episode 12
Seruni telah sadar dari pingsannya. Kesedihan Tantri mulai mereda karena Seruni masih hidup. Namun tetap saja, ia masih sedih karena Seruni mengalami ketulian.
Menurut dokter, besok Seruni bisa dibawa pulang, namun ia harus mengenakan kursi roda. Hingga keesokan harinya, Seruni belum sadar juga kalau ia tuli. Karena prihatin atas itu, Tantri membawa Seruni pergi ke sebuah toko yang menjual alat bantu pendengaran di daerah Salemba, Jakarta.
Setelah mengenakan alat bantu pendengaran yang baru saja dibeli, Seruni langsung merasakan perbedaan yang amat kontras dari hari kemarin. Ia mulai jelas mendengar suara-suara. Namun, ia mulai curiga.
“Mi, kayanya ada yang aneh, ya? Kemarin itu telinga Runi rasanya... apa jangan-jangan Seruni ini tuli, ya Mi?” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan perasaan berat, Tantri menjelaskan yang sebenarnya bahwa memang Seruni itu tuli. Namun, mendengar itu Seruni tampaknya tidak kesal atau marah. Tetapi ia bisa mengambil hikmah dari ini, bahwasanya dia diberikan kesempurnaan oleh Yang Maha Kuasa, mungkin dia akan merasa tinggi dan sombong. Akan tetapi, karena dia kekurangan maka orang-orang akan menjauhinya sehingga Tuhanlah yang akan selalu menemaninya.
“Jadi itu hikmah yang kamu ambil dari semua ini, Nak?” Tantri terharu.
Seruni mengangguk. Tantri semakin tak kuasa menahan kesedihan dan betapa rendah hatinya anak itu.
Dan, atas bahagianya Tantri memiliki anak seperti Seruni, Tantri menghadiahkan Seruni sebuah mobil yang tak kalah mewahnya dari mobil yang rusak karena kejadian naas itu. Seruni juga tak bisa menolaknya, ia pun menerima hadiah dari ibunya meski ada rasa sedikit takut akan kakak-kakaknya yang benci padanya.
“Mi, tapi Runi takut sama kak Anna dan Kak Rudi...” takutnya.
“Nggak, mereka gak bakal berani macam-macam selagi mami masih bisa melempar dan menampar wajah mereka dan mami akan tendang mereka jauh-jauh!” canda wanita tua itu.
“Emang mami masih kuat?” sindir Seruni.
“Iya lah... biar nenek-nenek gini juga mami ini mantan atlet...!” canda Tantri sekali lagi menghibur Seruni. Ia senang melihat Seruni kembali tertawa.
Episode 13
Benar saja, ketika Seruni masuk sekolah, ia dikucilkan teman-temannya, termasuk Bella. Tapi, Arman, Silvi dan Rendy tidak demikian. Ya, hanya mereka bertiga yang mau menemani Seruni.
Nasib Seruni semenjak dia tuli sangat prihatin di sekolahnya. Alat bantu pendengarannya kerap kali dilepas oleh Bella dan diinjak-injak olehnya sehingga alat tersebut rusak. Tapi Seruni hanya tersenyum.
“Nggak apa-apa, Silvi. Nanti aku bisa beli alat itu lagi, kok.” Kata Seruni dengan tenang pada Silvi yang marah pada Bella.
Cobaan demi cobaan dilaluinya dengan sabar dan tenang. Meski terkadang sakit hati juga melintas dalam perasaannya.
***
Akhirnya, saat-saat yang ditunggu oleh para siswa SMA setelah Ujian Nasional pun tiba. Dan ternyata, pemegang peringkat pertama atas hasil UN tertinggi diraih oleh Seruni. Dari situ, tak sedikit beberapa Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta yang menawarkan Seruni untuk bergabung dengan mereka.
Seruni dan ibunya begitu bahagia, akhirnya Seruni masuk dalam Fakultas Ekonomi UI. Dan bulan depan ia resmi menjadi mahasiswi di Universitas ternama itu.
Semenjak ia kuliah di sana, perlahan-lahan nasibnya kian membaik. Banyak beberapa pihak yang memberikan beasiswa untuknya. Baik beasiswa dalam bentuk uang, maupun belajar di luar negeri.
Hasilnya, ia keluar sebagai Sarjana Ekonomi dan ia berhasil membangun sebuah perusahaan yang mengurus proyek properti perumahan maupun apartemen.
Episode 14
“Ibu Seruni, kami mau menawarkan proyek bangunan perumahan Cluster di daerah Tangerang. Dan ini proposal kami.” Salah seorang dari perusahaan lain menyodorkan berkas-berkas proposal mengenai proyeknya yang akan bekerjasama dengan perusahaan Seruni.
“Baik, pak. Nanti saya urus dulu, terima kasih atas kerjasamanya.” Sang Direktur, Seruni, menyatakan sepakat atas kerjasama proyek itu.
Ia sangat senang atas keberhasilannya menjadi seorang pengusaha yang sukses sehingga ia dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga kehidupan ibunya di hari-hari tuanya. Namun rasa takut terhadap kakak-kakaknya masih saja menempel dalam perasaannya. Ia takut jika suatu saat nanti kakak-kakaknya akan menghancurkan semuanya.
“Mas Rudi, sekarang Seruni kan udah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi, apa masih ada kesempatan kita untuk dapetin warisannya mami?” tanya Eva pada suaminya, Rudi.
“Kamu itu bodoh atau apa, sih? Seruni itu udah jauh lebih kaya dari mami! Dia udah jadi direktur perusahaan. Dan dia juga yang sudah menghidupi mami, udah punya rumah sendiri, punya mobil mewah lagi!” Jawab Rudi.
“Jadi, yang kita incar sekarang adalah Seruni?” ujar Eva.
“Ya... bisa begitu!” balas Rudi.
Episode 15
Banyak pihak-pihak yang mau bekerjasama dengan perusahaan Seruni. Dan seiring dengan itu, harta Seruni semakin melimpah. Dari situlah ia bisa membangun yayasan panti asuhan anak yatim piatu, dan tanahnya pun banyak. Dan tak lupa ia berterima kasih pada alat bantu dengarnya yang menemani hidupnya.
Anna semakin geram atas itu semua. Anna berencana untuk menghancurkan semua yang dimiliki Seruni. Tapi ia bingung, ia harus bekerjasama dengan siapa. Rudi dan Eva kini telah berubah menjadi baik terhadap Seruni karena mereka bermaksud untuk mendapatkan hartanya. Sedangkan Evan juga pastinya tidak mau mengikuti jalan hidupnya.
“Aku akan membantu kakak untuk memuluskan rencana Kak Anna.” Kata Bella ketika diminta bekerjasama dengan Anna. Anna puas karena ada yang mau membantunya.
Suatu hari, ada kabar tak baik untuk Seruni. Ia cukup kaget atas berita yang ia dapatkan di koran.
“Mami, aku gak pernah membuat perjanjian untuk menggusur panti asuhan, Mi.” Rupanya kabar tak baik itu menuding Seruni bahwa ia menggusur panti asuhan untuk dijadikan Mall.
“Pasti ini perbuatan Anna!” ujar Tantri yang menduga bahwa Anna yang membuat ini semua.
Untuk kepastiannya, Seruni dan Tantri menuju panti asuhan.
Benar saja, sudah ada beberapa alat seperti eksavator yang akan digunakan untuk penggusuran. Seruni sangat sedih melihatnya. Ia tak tinggal diam, Seruni memutuskan untuk melakukan penghentian penggusuran.
Episode 16
“Pak, saya mohon batalkan semua ini!” Seruni membujuk pihak Mall yang akan menggusur panti asuhan.
“Tidak bisa, bu. Ibu sudah menyetujui ini dan sudah menandatanganinya, bu.” Kata Direktur dari pihak Mall.
Seruni heran, ia tidak pernah menandatangani perjanjian penggusuran panti asuhan. Dan terbukti, sebuah tinta hitam membentuk tanda tangan Seruni telah tercantum dalam surat itu. Tapi Seruni merasa tidak melakukannya. Rupanya Anna memiliki bakat untuk meniru tanda tangan orang lain. Direktur itu juga terjebak dengan wajah Anna dan Seruni yang mirip, sehingga orang itu mengira bahwa Anna adalah Seruni.
Seruni hanya bisa pasrah meratapi panti asuhannya yang mulai rata dengan tanah. Di sekelilingnya telah banyak anak-anak yatim piatu yang terlantar dan menangis.
Tiba-tiba Tantri ingat sesuatu, dahulu ia pernah bermain coret-coretan bersama Anna di atas secarik kertas. Anna begitu pandai meniru tulisannya, lukisannya, hingga tanda tangannya. Itu terjadi ketika Anna masih kecil. Emosi Tantri mulai naik. Ia memutuskan untuk memergoki Anna.
“Ini ulah kakakmu, Anna! Mami harus beri dia pelajaran!” selepas itu, Tantri pergi menuju rumah Anna. Seruni telah mencegahnya, namun gagal, emosi ibunya sudah tidak dapat dikendalikan lagi.
Setibanya di rumah Anna, Tantri mendengar suara teriakan Anna dan Evan. Sepertinya mereka tengah bertengkar. Rupanya yang menjadi akar pertengkaran mereka adalah kabar miring tentang penudingan Seruni menggusur panti asuhan. Evan menuduh Anna terus menerus, Anna membantah. Dan karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya Anna mengaku bahwa ia yang sudah membuat ini semua.
Begitu Anna mengaku, Tantri langsung memergokinya, “Jadi benar dugaan mami. Kamu sudah menghancurkan ini semua Anna!” tak tanggung-tanggung, Tantri menampar wajah anak sulungnya itu.
Anna terpaku, dia tidak bisa berkata-kata. Sedangkan Tantri juga menaruh rasa kasihan pada Evan, menantunya yang menjadi bulan-bulanan pertikaian Anna dengan Evan. Evan selalu membela keluarga Anna.
“Evan, mami tahu pasti ini berat untuk kamu. Mami jadi kasihan sama kamu, Van. Pernikahan kalian semakin terpecah karena kamu selalu membela keluarga kami dibandingkan dengan Anna sendiri. Dan, mami minta supaya kamu menceraikan Anna.” Atas rujukan dari mertuanya itu, Evan bersedia untuk menceraikan Anna.
Episode 17
“Tapi, Mi. Ini kan rumah saya, kalau Anna diceraikan saya. Anna mau tinggal dimana, Mi?” kata Evan yang masih menyimpan rasa kasihan pada Anna.
“Ah, bodo amat mau tinggal di mana! Di kolong jembatan, di emperan toko, di pinggir jalan, mami gak peduli! Usir dia sekalian, Evan!” jawab Tantri yang sudah tak peduli lagi terhadap Anna.
---
Keesokan harinya ketika Seruni masuk kantor, ada yang aneh. Para karyawan sepi, tidak ada yang masuk kerja, padahal Seruni belum memberikan izin cuti terhadap mereka. Dan yang lebih mengagetkan lagi, di meja kantornya terdapat surat-surat yang berisikan penyerahan perusahaan yang dialihkan kepada ibu Anna, terdapat pula tanda tangan Seruni yang ditiru Anna dengan tanda tangan Anna lengkap beserta materai. Maka, kini Anna menjadi pemegang perusahaan itu.
Tiba-tiba masuklah Anna ke ruang kantor Seruni. “Apa kabar, Seruni? Gimana ketika kamu melihat surat itu?” basa-basinya.
Seruni tidak bisa melawannya, ia hanya bisa menangis. “Kak Anna bukannya udah diusir dan diceraikan oleh Kak Evan, ya?” tanya Seruni pelan sambil menunduk.
“Diusir? Terus jadi gembel, begitu?” bentak Anna. “Denger, Runi. Lihat penampilan aku sekarang, mana ada sisi gembelnya? Kamu juga udah tahu kan perusahaan ini milik aku! Hahahaha.....” Anna semakin puas menekan Seruni. Ditambah lagi alat bantu pendengaran yang melekat di telinga Seruni juga dilepas Anna. Seruni pun akhirnya pulang.
Kini, semuanya berbalik 360 derajat. Seruni dan ibunya jatuh miskin, mereka berkelana di jalanan berharap belas kasihan orang lain. Hidupnya kandas di tengah jalan.
Kini mereka tinggal di emperan toko. Dan suatu malam, petugas Satpol PP berhasil membawa Tantri, sedangkan Seruni ia berhasil melarikan diri. Kini Seruni hidup sebatang kara, ditambah lagi ia tuna rungu, ia sering jadi bulan-bulanan warga. Ia sering disiksa, dicelakai bahkan kini, karena perilakunya yang sering mengamuk, ia dipasung warga. Dan ia menjadi gila.
Sedangkan Anna, ia berhasil memenangkan permainannya. Namun itu semua tak lama, ia mengalami hal yang sama dengan Seruni yakni menjadi gila setelah dirinya ditipu oleh kreditor dan hartanya hilang semua.
Kini, Seruni hanya bisa meratapi debu-debu kecil yang menemaninya siang malam selama ia dipasung di gubug tua. Seorang Seruni yang lemah lembut, penyayang, dan jelita kini telah menjadi sosok yang masa depannya tak tentu arah. Membuka fikiran sehatnya saja tak mampu ia kuasai. Hingga akhir hayatnya, Seruni hidup di balik bilik reyot dan tua.
SELESAI
Cerita ini mengamanahkan bahwa hidup ini hanya permainan belaka, toh kita nantinya akan ke akhirat juga dan kekal di sana. Janganlah seperti Anna yang serakah dan tidak peduli sesama, apalagi keluarganya. Dan janganlah seperti Seruni yang putus hidup di tengah jalan. Namun jadilah Seruni yang lemah lembut dan berhati mulia.
BLOG UMAR FAROOQ ZAFRULLAH LAINNYA
An Elementary Study of Islam : JIHAD - THE HOLY WAR
JIHAD - THE HOLY WAR A very important question which relates to the propagation of all divine messages. It relates to the instrument of propagation Adherents of almost all religions, as they move away in time from the source, are invariably known to have employed coercion either to keep peopl...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 10-06-2012
Kirana dan Kirani : Eps. 9 - 10
Kirana dan Kirani Episode 09 Tentu saja Lisa tidak menyerahkan uangnya, namun Ambara terus memaksa sampai akhirnya penyakit jantungnya kambuh. Kirani segera melarikan neneknya ke rumah sa...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 09-06-2012
Kirana & Kirani : Eps. 5 - 8
Kirana & Kirani Episode 05 Namun tidak pada kenyataannya, di rumah, Kirani sering disiksa dan dipukuli oleh ibu dan kakak tirinya. Keinginan mereka tak lain untuk memaksa Kirani mengambil kembal...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 09-06-2012
Kirana & Kirani : Eps. 4
Kirana & Kirani (Sebelumnya...) “Faris, sekarang kan kita udah jadi orang kaya. Gimana kalau nanti siang kita belanja banyak dan kita beli mobil untuk kamu bekerja di kantor.” Kata M...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 04-06-2012
Kirana & Kirani : Eps. 3
Kirana & Kirani Episode 03 Suasana duka masih menyelimuti hati Kirani yang masih suka bermurung diri di dalam kamar. Hingga saat pernikahan ayahnya, ia masih saja sering mengurungkan ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 04-06-2012
Kirana & Kirani : Eps. 2
Kirana & Kirani (Sebelumnya...) Penyakit jantung Irene kembali kambuh. Ia merasa tak kuasa lagi menahan rasa sakit. “Kirani...! Kirani...! Tolong mama, nak! Mama nggak kuat!” Irene m...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 04-06-2012
Kirana & Kirani : Eps. 1
Kirana & Kirani Episode 01 Penyakit jantung Irene kembali kambuh. Ia merasa tak kuasa lagi menahan rasa sakit. “Kirani...! Kirani...! Tolong mama, nak! Mama nggak kuat!” Irene memang...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 04-06-2012
[Bukan] Kuntilanak
[Bukan] Kuntilanak “Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama/tempa, karena ini hanya bersifat kebetulan belaka. Tidak ada maksud untuk menyinggung, ambil cerita yang positif, jangan ambil cerita yang negatif. Terima Kasih.” &n...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Misteri Cermin Hitam : Episode 3
Misteri Cermin Hitam Episode 3 Suatu waktu Citra bersama Sandra ingin mengunjungi teman SMA mereka yang sedang sakit di luar kota, tepatnya di Semarang.  ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Misteri Cermin Hitam : Episode 2
Misteri Cermin Hitam Episode 2 Keesokan harinya, Riva bergegas menuju sekolah di antar mamanya. “Oma, Riva pamit dulu, ya.!” Riva mencium tangan neneknya. Begitu pun Citra, “Ma, ak...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Misteri Cermin Hitam : Episode 1
Misteri Cermin Hitam Episode 1 Lembayung sutera melukis indahnya warna merah di angkasa, sang mentari mulai mengantuk dan menugaskan rekannya, bulan, untuk menggantikan dirinya di malam hari nanti. ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Seruni
SERUNI Tak biasanya bel berdering amat bising. Seluruh warga sekolah menyumbatkan sesuatu ke dalam telinga mereka guna meredam bising dari bel yang korslet sejak 5 menit lamanya. &n...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Obral : Gedung Mikrobiologi
Observasi Astral Gedung Mikrobiologi Setelah dari penelusuran Makam Belanda, saya berniat untuk mengunjungi Museum Zoologi untuk dijadikan sebagai objek Observasi Astral. Namun, tampaknya sebelum memasuki Museum, ada sebuah bangunan tua nan megah, bekas Gedung M...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Obral : Makam Belanda
Observasi Astral Makam Belanda Kebun Raya Bogor, tak hanya menyimpan beragam jenis tumbuhan serta kesatuan ekosistem hutan yang begitu menarik dan harus dilestarikan saja. Namun siapa bilang Kebun Raya Bogor tak menyimpan dime...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 03-06-2012
Seruni : Eps. 5 dan 6
Seruni Episode 5 Seruni mulai melangkahkan kakinya ke luar sekolah. Namun, Seruni mendengar suara gemuruh-gemuruh kecil yang meraung-raung di telinganya yang menandakan akan hujan. Langsung saja ia memberi peringatan pada anak-anak yang tengah latihan basket di lapangan. &...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 01-05-2012
Seruni : Eps. 3 dan 4
Seruni Eps. #3 “Seruniiiiii...!!” ibu Noni berteriak sekali lagi. Seruni tidak mendengar teriakan itu. Ia kaget dengan sikap bu Noni yang menunjukan wajah marahnya pada Seruni. “Seruni, sudah berapa kali ibu bilang, ini waktu belajar, bukan main musik!” m...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 01-05-2012
Seruni : Eps. 1 dan 2
Seruni Episode 1 Tak biasanya bel berdering amat bising. Seluruh warga sekolah menyumbatkan sesuatu ke dalam telinga mereka guna meredam bising dari bel yang korslet sejak 5 menit lamanya. &...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 01-05-2012
VVT-i
VVT-i Mesin berteknologi VVT-i (Variable Valve Timing with intelligence) adalah mesin berteknologivariable valve timing yang dikembangkan oleh Toyota. VVT-i menggantikan teknologi VVT Toyota yang sudah mulai diterapkan tahun 1991 di mesin Toyota&...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 26-04-2012
Artist Profile : Citra Prima
Artist Profile : Citra Prima Sepatu bot menjadi teman setia Citra saat harus menembus ilalang dan rerumputan liar di tempat-tempat yang jarang dijamah manusia. Ia merasa aman bersepatu bot, terutama karena bisa melindungi kakinya dari terjangan kodok yang suka berada di ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 26-04-2012
Vortex
VORTEX Vortex adalah tahap ketiga pemunculan Jin . Mereka memiliki kekuatan dengan level energy seperti ini dikarenakan kerjasama dengan manusia dalam bentuk sihir . Manusia yang mempelajari ilmu sihir , baik itu teluh , santet , ilmu kutuk , guna-guna , menyilap pandangan mata , susuk , ilmu...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 10-04-2012
Ectoplasma
ECTOPLASMA Ectoplasma adalah tahapan kedua pemunculan Jin . Kekuatan mereka sudah cukup untuk memadatkan dan menyatukan uap air di udara sehingga cukup untuk membuat bayangan asap dan memanjang seperti gambar di atas . Kekuatan mereka berasal dari ketakutan manusia dan dari manusia yang menye...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 10-04-2012
Orbs
ORBS Orbs atau sering disebut sebagai bola energi masih menjadi perdebatan antara para fotografer yang melihatnya sebagai sebuah out of focus partikel di udara misalnya debu atau embun dan fotografer yang melihatnya sebagai bola-bola energi. Istilah orbs itu sendiri baru mulai dikenal sej...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 10-04-2012
Triceratops
Triceratops, sang "wajah bertanduk tiga " 1. Nama dan Arti Triceratops Triceratopssecara harfiah berarti "wajah bertanduk tiga ", berasal dari Yunani”tri” yang berarti "tiga",&n...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 10-04-2012
An Elementary Study of Islam : Hajj
Hajj The fifth act of Islamic worship is the performing of the Hajj or the pilgrimage to Mecca. A Muslim must perform this pilgrimage at least once in his lifetime if economic and political conditions are favourable. The focal point of this pilgrimage is the Ka'ba, which was re...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 07-04-2012
THE BELIEF IN THE UNITY OF GOD
THE BELIEF IN THE UNITY OF GOD This seems to be a rather simple and elementary concept. It should not be difficult for anybody to understand the oneness of God, and there the matter seems to rest. But in fact there is far more to this than meets the eye. When one examines the concept of Uni...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 04-04-2012
Anak dan Menantu : Eps. 20
Anak dan Menantu No.20/Eps.#20A.M/IX-9/By:UFZ/13.03.2012 Episode 20 Suara ribut-ribut itu terdengar hingga ke ruang makan dan mengganggu suasana khidmatnya makan malam ibu Nenny sekeluarga. &n...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 13-03-2012
Anak dan Menantu : Eps. 19
Anak dan Menantu No.19/Eps.#19/A.M/IX-9/By:UFZ/13.03.2012 Episode 19 Malam harinya, Martha terpaksa mendatangi rumah Humairah. Bukan maksud apa-apa. Tetapi ia hanya ingin menumpang nonton sinetron di rumah H...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 13-03-2012
Anak dan Menantu : Eps. 18
Anak dan Menantu No.XVII/Eps.#18/A.M/IX-9/By:UFZ/13.03.2012 (Sebelumnya…) Setibanya di rumah, kedatangan ibu Nenny dan Sania disambut oleh keluarga pak Guntarman. &nb...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 13-03-2012
Anak dan Menantu : Eps. 14-17
Anak dan Menantu No.XI/Eps.#14-17/A.M/IX-9/By:UFZ/05.03.2012 Episode 14-15-16-17 “Kamu itu keterlaluan, ya Harlina!” bentak Martha. Tangan Harlina sudah tidak sabar ingin melayang ke wajah Martha, namun Martha cepat mencegahnya. “Dengar,...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 05-03-2012
Anak dan Menantu : Eps. 11-12-13
Anak dan Menantu No.XI/Eps.#11-13/A.M/IX-9/By:UFZ/05.03.2012 Episode 11-12-13 (Sebelumnya Eps. 10…) Hari sudah sore. Para tamu arisan sudah berdatangan ke rumah Humairah. Setelah para...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 05-03-2012
Anak dan Menantu : Eps. 10
Anak dan Menantu No.I/Eps.#10/A.M/IX-9/By:UFZ/24.02.2012 EPISODE 10 Kemudian Martha menarik tangan Humairah dan membawanya ke belakang rumah. Sepertinya dia ingin memberitahukan infor...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 24-02-2012
Anak dan Menantu : Eps. 7 - 8 - 9
Anak dan Menantu No.I/Eps.#7-9/A.M/IX-9/By:UFZ/24.02.2012 EPISODE 7 ` Sebelum membawa perhiasan-perhiasan itu ke luar, dia bercermin dulu di depan meja rias sambil mencoba-coba memakai perhi...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 24-02-2012
Anak dan Menantu : Eps. 4 - 5 - 6
Anak dan Menantu No.I/Eps.#4-6/A.M/IX-9/By:UFZ/24.02.2012 EPISODE 4 Kemudian Humairah memberitahukan bahwa keluarga pak Guntarman akan tinggal di rumahnya. Betapa girangnya keluarga p...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 24-02-2012
Anak dan Menantu : Eps. 1 - 2 - 3
Anak dan Menantu No.I/Eps.#1-2-3/A.M/IX-9/By:UFZ/22.02.2012 EPISODE 1 Hiduplah keluarga msikin pasangan Ibu Hasminah dan Bapak Raden Guntarman. Mereka memiliki 7 orang anak, mereka adal...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 22-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 100
Permainan Veronica Episode 100 “Nenek Salma!” seru Victor. Veronica dan nenek Salma semakin hangat berdekapan. Kedua sahabat itu memang tidak dipisahkan. Mereka memang sahabat sejati. Walau ada dendam, mereka akan tetap bersatu lagi. Namun&hel...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 19-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 91 - 99
Permainan Veronica Episode 91 - 99 “Sania, ngomong-ngomong mama kamu, mana?” Tanya nenek Salma menanyakan Tiara. “Mama masuk ke rumah sakit jiwa, nek. Kasihan mama. Mama begitu berambisi untuk balas dendam sama tante Mutia, namun gagal. Dia sepe...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 19-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 81 - 90
Permainan Veronica Episode 81 - 90 Keesokan harinya, seperti biasa. Moni diperlakukan lebih oleh Karina, pantas sajalah karena dia anaknya. Istirahat tiba, Karina membawa Moni bermain-main di taman. Karina sungguh bahagia atas semua ini. Kemudi...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 19-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 73 - 80
Permainan Veronica Episode 73 - 80 “Karina, kamu tidak apa-apa?” tanya Umi Zaenab. “Nggak apa-apa, Mi.” jawab Karina. Setelah Umi Zaenab membersihkan sisa pendarahan melahirkan pada Karina dengan air hangat, Karina menanyakan sia...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 19-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 69 - 72
Permainan Veronica Episode 69 - 72 Ketka sedang berhubungan telepon, sambungan telepon antara Karina dan Victor terputus. Sehingga Victor sulit mencari Karina, di rumahnya tidak ada. Ternyata Karina diculik oleh Clarissa. Dan dia dibawa ke suatu tempat yang jauh ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 12-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 67 dan 68
Permainan Veronica Episode 67 dan 68 Kemudian Victor berpikir, ia juga pernah bermimpi kalau ia melihat Clarissa menjadi Sundel Bolong. “Karin, semalam aku bermimpi bahwa Clarissa menjadi Sundel Bolong. Apa jangan-jangan sebenarnya Clarissa itu… ah, ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 12-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 64 - 65 - 66
Permainan Veronica VOL.I/PV/Eps.64-65-66/16-12-11/257/UFZ/2011-2012 EPISODE 64 - 65 - 66 Victor terbangun dari mimpinya, ia sadar. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Clarissa, yang sedang tidur di sebelah Victor, terbangun. Victor langsung mem...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 11-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 62 dan 63
Permainan Veronica VOL.I/PV/Eps.62-63/16-12-11/257/UFZ Episode 62 dan 63 “Sania, apa yang kamu lakukan terhadap Clara?” ujar Tiara. Sania yang tengah melahun jasad Clara tampak bingung atas penuduhan-penuduhan itu. Ia tidak bisa m...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 11-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 61
Permainan Veronica Episode 61 Akhirnya, pak Hanif mengambil keputusan untuk mencari Clara. Mereka semua pun akhirnya sepakat untuk mencari Clara, termasuk Tiara dan Clarissa. Mereka semua mulai menaiki mobil milik pak Hanif. Mereka terus melaju hingga ke sebuah d...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 11-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 55-60
Permainan Veronica Episode 55-60 Kemudian mereka berempat berbincang-bincang. Namun di sela-sela perbincangan mereka, Karina mengungkapkan kabar gembiranya karena dia telah mengandung selama satu bulan. “Waduuuh… selamat, ya.” Ucap Victor. ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 09-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 54
Permainan Veronica Episode 53 “Vic, kenapa ya semua keluargamu begitu padaku?” Clarissa mengeluh. “Ya… namanya juga orang lah, Ris. Maklum semua orang pasti ada kesalahan masing-masing.” Hibur Victor. Victor bingung ia mau tingg...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 09-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 53
Permainan Veronica Episode 53 Pernikahan itu sangat mendadak, besok pagi pernikahan itu digelar di rumah nenek Salma. Pada saat yang bersamaan, Clara mengalami pusing dan mual-mual. Entah apa penyakit yang dideritanya. Rasanya Clara tidak ikhlas kalau kakaknya me...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 08-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 52
Permainan Veronica Episode 52 Tiba-tiba, datanglah dua orang polisi sambil membawa gembok. “Saudari Clara, anda bebas.” Kata polisi. Alangkah bahagianya Clara saat itu. “Bagaimana saya bisa bebas, pak?” “Saudara pelapor telah...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 08-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 51
Permainan Veronica Episode 51 Pagi sudah datang, mentari menyinarkan bumi. Clara segera beranjak dari tikar yang ia tiduri. Alangkah kagetnya ia melihat tikar sebelah tidak ada Sania. Namun tak lama kemudian, Sania berdiri di depan sel-nya Clara diluar jeruji besi. ...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 08-02-2012
Permainan Veronica : Eps. 50
Permainan Veronica Episode 50 Di malam hari, Sania ke luar sel untuk buang air kecil ke toilet. Setelah ia keluar dari toilet, ia melihat sosok wanita berbaju putih berdiri di hadapannya. “Sania, ikut saya!” ujar wanita itu sambil menarik lengan Sania...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 08-02-2012
Cleopatra
CLEOPATRA The identity of Cleopatra's mother is unknown, but she is generally believed to be Cleopatra V Tryphaena of Egypt, the sister or cousin and wife of Ptolemy XII, or possibly another Ptolemaic family member who was the daughter of Ptolemy X and Cleopatra Berenice III Ph...
Read MoreUMAR FAROOQ ZAFRULLAH 00:00:00 01-02-2012
ARSIP
- November 2021(15)
- Oktober 2021(15)
- November 2020(7)
- Oktober 2020(10)
- September 2020(9)
- Agustus 2020(3)
- Juli 2020(1)
- Juni 2020(2)
- Mei 2020(4)
- April 2020(12)
- Maret 2020(83)
- April 2017(1)
- Januari 2017(1)
- Oktober 2016(1)
- Desember 2015(5)
- November 2015(1)
- Oktober 2015(1)
- September 2015(2)
- Agustus 2015(1)
- Juli 2015(1)
- Mei 2015(1)
- April 2015(1)
- Maret 2015(1)
- Desember 2014(2)
- November 2014(1)
- Oktober 2014(11)
- September 2014(6)
- Agustus 2014(1)
- Juni 2014(2)
- April 2014(2)
- Maret 2014(1)
- Desember 2013(1)
- Oktober 2013(3)
- September 2013(1)
- Juni 2013(1)
- Maret 2013(26)
- Februari 2013(38)
- Januari 2013(8)
- Desember 2012(23)
- November 2012(8)
- Juni 2012(29)
- Mei 2012(17)
- April 2012(248)
- Maret 2012(436)
- Februari 2012(215)
- Januari 2012(486)
- Desember 2011(647)
- November 2011(39)
- Oktober 2011(272)
- September 2011(81)
- Agustus 2011(115)
- Juli 2011(153)
PENULIS
- NUR AZIZAH(430)
- SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
- ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
- UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
- Naufal Rasyid(107)
- RISA ANJANI(106)
- MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
- NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
- Fauzi Firdaus(47)
- ALI SYAUQI(46)
- ELITA AVIANTI DARMA(43)
- FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
- NABILA ISNAENI AMALIA(38)
- RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
- ANDHIKA FIRDAUS(28)
- ADAM RAMADHAN(26)
- HERI SUHARSO(25)
- RINDANG NOOR ALIFA(25)
- RUSMIATI(24)
- ANITA PUJI ASTUTI(18)