Blog Siswa

SANGIRAN : The Homeland of Java Man

DIO KHOIRUL AZHAR | 26-04-2012 00:00:00

 

Sangiran dalam Peta Evolusi Manusia

Sejarah manusia dimulai dengan ditemukannya fosil berusia sekitar 7-4 juta tahun lalu, Australopithecus afarensis, di Afrika. Sekitar 3-2 juta tahun kemudian muncul keturunan mereka Australopithecus africanus, Australopithecus robustus, dan Australopithecus boisei yang telah menguasai daerah Afrika Selatan dan Afrika Timur. Sekitar 2 juta tahun silam Homo habilis, si manusia tangkas telah menghasilkan tahapan evolusi yang lebih banyak mencirikan manusia sejati. Pada Homo habilis ini telah diciptakan budaya tertua dari Lembah Olduvai, Afrika Timur.
Keadaan tersebut berubah cepat ketika ditemukan keturunan Homo habilis yakni Homo erectus pada 1,5 juta tahun yang lalu.
Hal yang menarik adalah kenyataan bahwa sebaran temuan Homo erectus mencakup daerah yang luas, tidak terbatas Afrika saja. Sebaran geografis Homo erectusmenembus pelosok benua Eropa, Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Di padang tandus bernama Sangiran, Homo erectus telah menorehkan cerita panjang kemanusiaan selama 1,5 juta tahun terakhir. Sejak ditemukan oleh G.H.R. von Koenigswald pada tahun 1934, Sangiran telah menjadi pusat perhatian dunia karena temuan di Sangiran mampu memberikan gambaran jelas mengenai evolusi budaya, evolusi fauna, evolusi flora, dan yang paling penting adalah evolusi manusia.
Berbagai keunggulan Situs Sangiran bagi sejarah kemanusiaan telah mengantarkan statusnya sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia yang ditetapkan UNESCO pada 5 Desember 1996 dengan nomor 593.

 

Sejarah Situs Sangiran

1893

:

Eugene Dubois melakukan penelitian pertama kali di Sangiran.

1932

:

Situs ini dipetakan oleh L.J.C. van Es ke dalam peta geologi berskala 1:20.000.

1934

:

Dengan pedoman pada peta tersebut, C.H.R. von Koenigswald melakukan survai eksploratif dan berhasil menemukan berbagai artefak manusia purba.

1936

:

Ditemukan fosil fragmen rahang kanan manusia purba pertama oleh penduduk yang diserahkan kepada Koenigswald. Temuan pertama fosil manusia purba dari Sangiran tersebut kemudian diberi kode: S1 (Sangiran 1).

1937 - 1941

:

Dengan bantuan penduduk setempat, pada tahun 1937, 1938, 1939 dan 1941, Koenigswald berhasil menemukan fosil manusia purba Homo erectus danMeganthropus paleojavanicus.

1960

:

Peneliti dari Indonesia mulai melakukan eksplorasi di Situs Sangiran. Mereka adalah Sartono, RP Soejono, dan Teuko Jacob.

1969

:

Ditemukan fosil tengkorak Homo erectus terlengkap di Indonesia sekaligus merupakan satu-satunya fosil tengkorak terlengkap di Asia yang ditemukan beserta dengan wajahnya. Temuan ini kemudian dinamakan S17 (Sangiran 17).

1975

:

Temuan-temuan di Situs Sangiran yang telah terkumpul di kediaman Toto Sumarsono dipindahkan di bangunan yang sekarang menjadi Balai Desa Krikilan.

1977

:

Berdasarkan surat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 070/0/1977 tanggal 15 Maret 1977, Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang.

1982

:

Dengan semakin banyaknya temuan maka dibentuk Unit Kerja di bawah Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah yang bertugas mengamankan Situs dan temuan arkeologis di Sangiran.

1988

:

Dalam rangka kepentingan kepariwisataan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi mendirikan Museum Prasejarah Sangiran di Desa Krikilan.

1990

:

Penelitian di Sangiran semakin intensif dilakukan untuk mengetahui proses-proses evolusi fisik manusia, budaya, dan lingkungan oleh beberapa instansi yakni Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, Laboratorium Bioanthropologi dan Paleoanthropologi, UGM, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung.

6 Desember 1996

:

Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) no C 593 oleh UNESCO dengan nama the Sangiran Early Man Site.

2004

:

Tersusun Master Plan Sangiran oleh Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

2006

:

Tersusun Design Engineering DetailPengembangan Situs Sangiran oleh Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.

2007

:

Melalui Surat Ketetapan no PM.17/HK.001/MKP 2007 Pemerintah membentuk lembaga Unit Pelaksana Teknis yang memiliki tugas mengelola Situs Manusia Purba Sangiran dan situs-situs sejenis lainnya dengan nama BALAI PELESTARIAN SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN.

2008

:

Melalui Peraturan Menteri no PM.34/HM.001/MKP/2008 Situs Sangiran masuk ke dalam daftar Obyek Vital Nasional di bidang Kebudayaan dan Pariwisata.

2009

:

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran mulai melaksanakan tugas-tugas penelitian, pelestarian, dan pemanfaatan.

2010

:

Implementasi Situs Sangiran Menuju Kawasan Strategis Nasional.

Lapisan Tanah Sangiran

Lansekap Sangiran dibentuk oleh berbagai proses geologis dan geomorfologis selama lebih dari 2 juta tahun. Proses geologis yang terkontrol oleh tenaga endogen, melipat struktur batuan di sebagian wilayah Depresi Solo ini hingga membentuk struktur kubah (dome). Akibat tenaga tersebut, lapis-lapis raksasa yang dibentuk oleh endapan laut purba, danau purba, rawa purba, dan muntahan material gunung api-gunung api purba selama beberapa tahap, membumbung menjadi sebuah tinggian atau semacam pulau kecil di tengah cekungan raksasa Depresi Solo.
Proses geomorfologis (eksternal) pun turut mengimbangi kejadian ala mini, dengan menyingkap dan membelah lapis-lapis tebal batuan pembentuk kubah, hingga ke sedimen dasar laut berumur Miosen – Pliosen yang dikenal sebagai Formasi Kalibeng. Proses geomorfologis ini tidak dapat dilepaskan dari peran Kali Cemoro berikut anak-anak sungainya yang secara menerus menorah inti Kubah Sangiran secara vertikal hingga menampakkan lapis batuan tertua. Geliat alurnya secara horizontal juga mampu mengikis, melongsorkan, hingga memperlebar tebing-tebing di kanan-kirinya. Dari sanalah, sebagian besar jejak kehidupan purba itu muncul.
Melengkapi gambaran lansekap prasejarah Sangiran yang diakui secara internasional sebagai The Sangiran Early Man Site. 
Satu hal dapat dipelajari dari lapisan tanah di Situs Sangiran adalah proses evolusi lingkungan purba yang telah berjalan paling tidak selama 2 juta tahun tanpa terputus.
Di lapisan bawah terdapat lempung biru dari Formasi Kalibeng dengan usia 2,4 juta tahun yang menunjukkan bahwa lingkungan Sangiran saat itu merupakan lingkungan laut dalam, Kala Pliosen.
Pada awal Kala Plestosen Bawah, sekitar 1,7 juta tahun lalu, diendapkan lahar vulkanik Gunung Lawu Purba yang berada pada bagian bawah lempung hitam, Formasi Pucangan. Lapisan lahar ini mengubah lingkungan Sangiran, dari lingkungan laut dalam menjadi lingkungan darat, berupa daerah rawa.
Pada sekitar 0,9 juta tahun lalu terjadi erosi di Pegunungan Selatan. Material erosi berupa pecahan gamping pisoid, dan kerikil vulkanik menyatu di daerah Sangiran dan membentuk lapisan grenzbank setebal 1-4 meter. Saat ini Sangiran telah total menjadi daratan secara permanen.
Periode berikutnya terjadi letusan hebat gunung yang berada di sekitar Sangiran yang memuntahkan jutaan kubik endapan vulkanik melalui sungai-sungai sehingga menutupigrenzbank di Sangiran. Endapan vulkanik setebal kurang lebih 40 meter ini dikenal dengan nama Formasi Kabuh. Usia lapisan tanah ini sekitar 700.000-250.000 tahun lalu.
Lapisan tanah berikutnya, Formasi Notopuro, menutupi Formasi Kabuh dengan material batuan andesit berukuran kerikil hingga boulder. Pengendapan lahar ini berlangsung cukup singkat, kurang lebih selama 70.000 tahun.


Tipe Homo erectus

Berdasarkan kronologinya, kehadiran Homo erectus di Sangiran mempunyai rentang waktu antara 1,5 juta hingga 0,3 juta tahun yang lalu, dengan masa evolusi lebih dari 1 juta tahun.
Analisis morfologis terhadap fosil hominid Sangiran telah mengklasifikasikan adanya 2 tingkatan evolutif, yaituHomo erectus arkaik dari tingkatan Kala Plestosen Bawah dan Homo erectus tipikal dari tingkatan Kala Plestosen Atas.
Homo erectus arkaik hidup pada 1,5 juta hingga 1 juta tahun yang lalu. Sementara keturunannya, Homo erectus tipikal, hidup pada 0,9 juta hingga 0,3 juta tahun silam.
Apabila dilihat dalam lingkup yang lebih luas lagi, selama Kala Plestosen terdapat tipe Homo erectus yang lebih muda dan lebih muda dan lebih maju dibandingkan dengan tipe arkaik dan tipikal. Tipe ini disebut dengan Homo erectus progesif yang sementara ini belum pernah ditemukan di Sangiran, melainkan ditemukan di situs lain, yaitu Ngandong (Blora), Sambungmacan (Sragen), dan Selopuro (Ngawi). Homo erectus progesif hidup antara 200.000 sampai dengan 100.000 tahun yang lalu.

3 TIPE HOMO ERECTUS DI INDONESIA

ARKAIK.

TIPIKAL

PROGRESIF

Diantara ketiga jenisHomo erectus yang ada di Indonesia,Homo erectus arkaikmempunyai ciri fisik yang paling kekar. Dengan gigi geligi yang kuat dan diduga lebih banyak memakan tumbuhan daripada hewan. Volume otak jenis ini sekitar 850 cc.

Jenis kedua ini sudah lebih maju dibandingkan dengan jenis arkaik. Mukanya lebih mungil, meskipun dahi masih landai dan agak tonggos. Dalam kelompok ini termasuk temuan fosil Homo erectus pertama oleh Dubois di Trinil. Jenis ini pula yang paling banyak ditemukan di situs-situs di Jawa terutama Sangiran, Trinil, Ngawi, dan Sambungmacan. Volume otaknya mencapai 1000 cc.

Jenis ini adalah yang paling maju, volume otak lebih besar sekitar 1100 cc, dan dahi agak meninggi, sementara tonjolan tulang alis tidak begitu terlihat. Fosilnya ditemukan di situs Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi. Hingga kini fosilnya belum ditemukan di Sangiran.



Kebudayaan Homo erectus

Sangiran diketahui sebagai situs yang berkaitan dengan kehidupan manusia purba, bermula dari kiprah G.H.R. von Koenigswald di perbukitan Ngebung. Pada salah satu punggung bukitnya ditemukan sejumlah alat-alat batu berupa serpihan bilah yang dibuat dari kalsedon maupun jasper. Meskipun alat-alat tersebut merupakan temuan permukaan, tetapi berdasarkan asosiasi artefak dengan fauna Trinil, Koenigswald menyatakan bahwa temuan tersebut berasal dari Kala Plestosen Tengah yang berusia sekitar 400.000 tahun yang lalu. Pernyataan ini mengundang perdebatan diantara para ahli. G.J. Barstra mengatakan bahwa alat-alat tersebut paling tua berusia 50.000 tahun. Pada tahun 1990 dilakukan penggalian secara sistematis untuk mendapatkan usia pasti kebudayaan Homo erectus di Sangiran. Ekskavasi ini menghasilkan temuan spektakuler berupa sisa manusia, sisa fauna, dan artefak batu secara in-situ, termasuk beberapa alat serpih yang sama dengan temuan Koenigswald. Semua temuan ini berada pada endapan pasir fluvio-vulkanik anggota Formasi kabuh bagian bawah, sehingga usianya sekitar 700.000 tahun yang lalu.
Selain di Ngebung, penggalian juga dilakukan di tempat lain, diantaranya di pinggir Kali Dayu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo. Di pinggir sungai tersebut tersingkap suatu lapisan tanah yang terdiri atas lempung hitam Formasi Pucangan, grenzbank, pasir vulkanik Formasi Kabuh, dan endapan teras yang terletak di atas erosi Formasi Kabuh. Ketika penggalian mencapai endapangrenzbank, ditemukan tidak kurang 15 buah alat-alat batu berupa serpih, serut, bilah, dan gurdi maupun alat tulang secara in-situ. Inilah artefak pertama yang ditemukan pada lapisan grenzbank, sehingga alat-alat tersebut ditafsirkan paling tidak berusia 800.000 tahun, sesuai dengan lapisan pengendapnya. Sangat pasti bahwa budaya tersebut milik Homo erectus tipikal yang hidup antara 0,9 juta – 0,3 juta tahun yang lalu. Kemudian muncul pertanyaan, di manakah budaya Homo erectus arkaik, jenis manusia paling tua di Sangiran? Pada endapan lempung hitam Formasi Pucangan yang berusia 1,2 juta tahun yang lalu, di bawah grenzbank ditemukan alat-alat serpih dalam jumlah besar. Dari kotak galian berukuran 3x3 m ditemukan artefak. Sangiran flake industry sejumlah 220 buah. Inilah himpunan alat-alat Homo erectus paling tua di Indonesia.

Fauna di Sangiran

Selain potensi akan kandungan fosil manusia dan artefaknya, di Sangiran juga sangat banyak menyimpan fosil-fosil fauna. Fosil-fosil ini berada pada seluruh tingkatan statigrafi tanah Sangiran sehingga cukup berbeda dengan fosil-fosil manusia dan alat-alatnya yang ditemukan pada lapisan tanah tertentu. Eksistensinya dapat ditemukan kembali pada tingkatan stratigrafi dari Formasi Kalibeng, Pucangan, grenzbank, Kabuh dan Notopuro. Jenis binatangnya pun cukup bervariasi, mulai dari binatang air, reptil, maupun vertebrata. Binatang vertebrata paling sering ditemukan, antara lain adalahStegodon sp. dan Elephas sp. (jenis-jenis gajah purba).Cervidae (rusa), Bovidae (kerbau, sapi, banteng), buaya rawa, ataupun Rhinoceros sp. (badak). Sisa-sisa binatang tersebut ditemukan kembali pada berbagai tingkatan stratigrafi, sehingga secara lebih khusus telah mampu memberikan gambaran mengenai evolusi faunal yang pernah terjadi di Sangiran selama lebih dari 1 juta tahun.
Di Sangiran, manusia telah berdampingan hidupnya secara harmonis dengan alam binatang yang merupakan bagian dari lingkungan purba mereka, dan hampir pasti, sebagian dari binatang tersebut telah menjadi sasaran perburuan mereka.

Kesimpulan

Sejak tampil pertama kali ke panggung dunia pada tahun 1934, Situs Sangiran pun telah mampu menyihir kajian paleoanthropologi dunia. Inilah salah satu barometer evolusi manusia. Diteliti, dilestarikan, dan dimanfaatkan untuk khalayak ramai, esensi akademisnya diharapkan akan mempercerah dunia ilmiah di kemudian hari. Di sinilah peradaban tertua itu bermula, hingga saat ini, tiada henti-hentinya menghadirkan cerita lama tentang kemanusiaan. 

INDONESIA.. HEBAT KAN??

BLOG DIO KHOIRUL AZHAR LAINNYA

Legend Of Danau Toba

  There was a poor fisherman lived nearby the river in North Kalimantan. He went fishing early every morning and always returned to his home at night time. One day, he set up his net and caught a big golden fish. He fell in love with the beauty of the fish that he decided not to kill the...

Read More

DIO KHOIRUL AZHAR 00:00:00 26-04-2012

SANGIRAN : The Homeland of Java Man

  Sangiran dalam Peta Evolusi Manusia Sejarah manusia dimulai dengan ditemukannya fosil berusia sekitar 7-4 juta tahun lalu, Australopithecus afarensis, di Afrika. Sekitar 3-2 juta tahun kemudian muncul keturunan mereka Australopithecus africanus, Australopithecus robustus...

Read More

DIO KHOIRUL AZHAR 00:00:00 26-04-2012

ARSIP

  • November 2021(15)
  • Oktober 2021(15)
  • November 2020(7)
  • Oktober 2020(10)
  • September 2020(9)
  • Agustus 2020(3)
  • Juli 2020(1)
  • Juni 2020(2)
  • Mei 2020(4)
  • April 2020(12)
  • Maret 2020(83)
  • April 2017(1)
  • Januari 2017(1)
  • Oktober 2016(1)
  • Desember 2015(5)
  • November 2015(1)
  • Oktober 2015(1)
  • September 2015(2)
  • Agustus 2015(1)
  • Juli 2015(1)
  • Mei 2015(1)
  • April 2015(1)
  • Maret 2015(1)
  • Desember 2014(2)
  • November 2014(1)
  • Oktober 2014(11)
  • September 2014(6)
  • Agustus 2014(1)
  • Juni 2014(2)
  • April 2014(2)
  • Maret 2014(1)
  • Desember 2013(1)
  • Oktober 2013(3)
  • September 2013(1)
  • Juni 2013(1)
  • Maret 2013(26)
  • Februari 2013(38)
  • Januari 2013(8)
  • Desember 2012(23)
  • November 2012(8)
  • Juni 2012(29)
  • Mei 2012(17)
  • April 2012(248)
  • Maret 2012(436)
  • Februari 2012(215)
  • Januari 2012(486)
  • Desember 2011(647)
  • November 2011(39)
  • Oktober 2011(272)
  • September 2011(81)
  • Agustus 2011(115)
  • Juli 2011(153)

PENULIS

  • NUR AZIZAH(430)
  • SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
  • ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
  • UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
  • Naufal Rasyid(107)
  • RISA ANJANI(106)
  • MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
  • NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
  • Fauzi Firdaus(47)
  • ALI SYAUQI(46)
  • ELITA AVIANTI DARMA(43)
  • FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
  • NABILA ISNAENI AMALIA(38)
  • RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
  • ANDHIKA FIRDAUS(28)
  • ADAM RAMADHAN(26)
  • HERI SUHARSO(25)
  • RINDANG NOOR ALIFA(25)
  • RUSMIATI(24)
  • ANITA PUJI ASTUTI(18)

SMP NEGERI 7 BOGOR

SMP NEGERI 7 BOGOR

  • Homepage
  • Informasi Sekolah
  • Profil Sekolah
  • Kegiatan
  • Prestasi Sekolah
  • Sarana Sekolah
  • Sumber Daya Manusia
  • Gerakan Literasi Sekolah

Blog

  • Blog Guru
  • Blog Siswa
  • Blog Ekskul
  • Blog OSIS

Sambutan Kepala Sekolah

Assalamualaikum Wr.WbPuji syukur kehadirat Allah SWT atas karunianya SMP Negeri 7 Bogor dapat menyajikan informasi melalui website sekolah ini.Di era global dan pesatnya teknologi informasi, keberadaa...Read More

© SMP NEGERI 7 BOGOR. All rights reserved.