Blog Siswa

TUGAS LIBURAN ( TIK )

NAOMI TIRAHANI | 25-03-2012 00:00:00

A.     Perkembangan Minat Baca di Indonesia

Pembinaan dan peningkatan mutu minat baca masyarakat merupakan paradigma yang perlu mendapat perhatian  serius. Hal ini disebabkan oleh adanya keprihatinan bahwa bangsa Indonesia menduduki peringkat yang bisa dikategorikan sebagai zona degradasi dalam hal pengembangan minat baca bagi masyarakatnya. Salah satu indikator rendahnya minat baca masyarakat dapat dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah penerbitan buku di Indonesia masih jauh dibawah penerbitan buku di negara-negara berkembang seperti Malaysia, India atau negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.

Berdasarkan sejumlah survei yang dilakukan oleh lembaga survei baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih rendah baik dari segi kualitas maupun segi kuantitas minat untuk membaca dikalangan masyarakat. Adapun beberapa laporan hasil survei maupun hasil studi yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Laporan International Association for Evaluation of Educational pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29 setingkat di atas Venezuela. Peta di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan  “Education in Indonesia from Crisis to Recovery” tahun 1998, hasil studi tersebut menunjukan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar di Indonesia, hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7% setelah Filipina yang memperoleh 52,6%  dan Thailand dengan nilai 65,1% serta Singapura dengan nilai 74,0% dan Hongkong yang memperoleh 75,5%. [1]
  2. Hasil survei UNESCO tahun 1992 menyebutkan, tingkat minat baca rakyat Indonesia menempati urutan 27 dari 32 negara.
  3. Hasil survei yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1995 menyatakan, sebanyak 57 persen pembaca dinilai sekadar membaca, tanpa memahami dan menghayati apa yang dibacanya.
  4. Statistik yang dikeluarkan UNICEF didalam beberapa dasawarsa terakhir masih saja menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang penduduknya dalam mengkonsumsi bacaan, baik berupa koran, majalah, maupun buku, tergolong relatif sedikit.(Wasil Abu Ali)[2]
  5. Berdasarkan laporan UNDP tahun 2003 dalam (Human Development Report) 2003 bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks – HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukan bahwa  pembangunan manusia di Indonesia menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia. Sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109 padahal negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar, namun Vietnam lebih yakin bahwa dengan membangun manusianya sebagai prioritas terdepan akan mampu mengejar ketertinggalan yang selama ini mereka alami.
  6. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukan, bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%). (sumber:www.bps.go.id).

            Melihat beberapa hasil survei maupun hasil studi di atas menunjukkan budaya membaca (reading culture) belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa kita. Hal ini sangat disayangkan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan modernisasi dan derasnya arus globalisasi semakin membawa manusia ke dalam dimensi kehidupan yang semakin canggih atau sering di kenal dengan era dunia tanpa batas. Jika hal ini tidak disikapi sejak dini maka bangsa Indonesia akan semakin tertinggal dari negara-negara lain dalam hal pengembangan dan peningkatan kualitas minat baca di kalangan masyarakatnya. Sebagai upaya antisipatif terhadap realita diatas adalah perlu adanya peningkatan terhadap mutu minat baca masyarakat baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Hal ini disebabkan karena budaya membaca merupakan sebuah sarana untuk menguak cakrawala pengetahuan. Membaca sangatlah penting bagi mereka yang ingin cerdas. Perintah untuk membaca merupakan perintah yang dititahkan Tuhan semesta alam di dalam Al-qur’an. Hal ini mengindikasikan, betapa pentingnya aktivitas membaca bagi umat manusia, lebih-lebih bagi yang mengimani kitab suci Alqur’an sebagaimana yang di perintahkan melalui ayat-ayat Alqur’an yaitu  Iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ warabbukal akram. Al ladzii ‘allamal bil qalam. ‘Allamal insaana maalam ya’lam yang artinya(“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan pena (tulis baca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-’Alaq: 1-5).

B.  Manfaat Membaca

Membaca memang besar manfaatnya, namun budaya baca di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia belumlah mengakar. Oleh karena itu perlu adanya proses pembudayaan membaca. Menurut Yuniarto:2001 mengatakan bahwa, kegiatan pembudayaan membaca merupakan sebuah proses panjang dan bukannya sesuatu yang instant. Oleh sebab itu diperlukan proses dalam memperbaiki kualitas minat baca di kalangan masyarakat Indonesia

Dengan membaca berarti kita menambah wawasan. Membaca bukan saja hanya dengan objek buku, tetapi banyak segi yang harus kita baca dalam arus hidup ini. Dinamika kelompok, fenomena-fenomena alam, nuansa politik dan bidang lainnya juga harus menjadi objek bacaan. Membaca bukan saja dalam pengertian yang umum, tetapi membaca alam secara seksama menjadi keharusan dalam menuju kahidupan yang lebih baik. Mari dengan membaca kita cerdaskan masyarakat bangsa ini dari kebodohan dan kemiskinan. Budaya membaca tidak hanya diperuntukkan bagi generasi muda saja, tetapi seluruh elemen masyarakat harus bahu-membahu mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas.

Sebagai keteladanan yang dapat digunakan media inspirasi untuk menggugah semangat dalam meningkatkan minat baca dan budaya membaca adalah belajar dari keuletan dan ketekunan salah satu tokoh legendaris dunia yang namanya sampai saat ini masih dikenal yaitu Thomas Alva Edison. Sulit dibayangkan bahwa anak yang terlalu bodoh drop out dari sekolah dasar, dan sempat menjadi pedagang asongan itu kemudian mencantumkan namanya dalam deretan ilmuwan paling terkemuka di dunia. Tidak kurang dari tiga ribu penemuan yang dicatat atas namanya. Apa yang membuat Edison menjadi cerdas? Salah satu yang membuatnya cerdas dan berhasil melakukan berbagai penemuan, tiada lain adalah kegemarannya membaca buku. Luar biasa, manfaat dari membaca buku. Dengan membaca buku mampu mengubah kehidupan seseorang.

Disisi lain berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit demensia atau pikun. Demensia merupakan penyakit yang merusak jaringan otak. Seseorang yang terkena demensia dipastikan akan mengalami kepikunan atau dalam bahasa remajanya disebut tulalit. Dr. C. Edward Coffey, seorang peneliti dari Henry Ford Health System, telah membuktikannya. Menurut penelitian Coffey tentang pendidikan menunjukkan bahwa, salah satu pendidikan termurah adalah membaca buku. Membaca buku dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi otak. Hal ini dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 – 99 tahun yang tidak terkena demensia. Oleh sebab itu membaca buku selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan juga memberikan dampak positif  bagi kesehatan manusia yaitu mengurangi resiko terserang penyakit demensia atau pikun.

Betapapun besarnya manfaat dari membaca buku, jika masyarakatnya kurang memiliki kesadaran tentang pentingnya membaca buku, maka terciptanya suatu peradaban yang lebih baik menjadi suatu keniscayaan. Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi. Jepang, Amerika, Jerman, dan negara maju lainnya yang masyarakatnya punya tradisi membaca buku, begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi, ketika antre membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, mereka manfaatkan waktu dengan kegiatan produktif yakni membaca buku. Di Indonesia kebiasaan seperti ini belum tampak. Menumbuhkan kebiasaan membaca harus dikembangkan sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Pepatah Inggris mengatakan “we first make our habits, then our habits make us”. Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, kegemaran membaca buku akan timbul, jika membiasakan diri membaca dalam setiap aktivitas sehari-hari. Membaca buku menjadi alternatif untuk bisa menjadi terpelajar layaknya orang yang mengikuti pendidikan formal. Banyak tokoh dan cendikiawan tak sempat mengenyam pendidikan formal sampai jenjang perguruan tinggi akan tetapi mereka menggantinya dengan membaca buku. Orang-orang yang berpengaruh di Indonesia pada masa lalu, ternyata di dalam kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari peran buku. Adam Malik, misalnya, salah seorang yang perkembangan intelektualnya dibesarkan oleh buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan keliling, tanpa harus mengikuti pendidikan formal. Jadi, tidak ada alasan tidak bisa menjadi orang terpelajar karena tidak bisa mengikuti pendidikan formal. Tentu akan lebih baik jika dapat menempuh pendidikan formal yang cukup tinggi dan dibarengi dengan kegemaran membaca buku. Kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan formal sampai jenjang perguruan tinggi jika dibarengi dengan kegemaran membaca buku tentu akan menghasilkan out put yang berkualitas. Kelak out put tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. Kemudian tokoh melayu yang bernama Hamka merupakan sosok seorang cendekiawan yang mempunyai kepiawaian dalam berfikir dalam menggali nilai-nilai keislaman. Yang mana Hamka adalah orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Pembelajaran yang dia lakukan sifatnya otodidak akan tetapi pemikirannya mampu diterima kalangan masyarakat itu semua dia peroleh dari kegemarannya dalam membaca buku. Sayangnya, kini kita dihadapkan pada kenyataan yang sangat memprihatinkan. Mahasiswa, yang secara formal merupakan golongan terpelajar, justru dihinggapi penyakit malas membaca. Minat baca buku di kalangan mahasiswa, harus diakui masih rendah. Mereka masih mengandalkan peran dosen dalam menerima ilmu. Minim sekali mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk memperdalam ilmunya dengan mencari dan membaca langsung buku-buku sumbernya. Budayawan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya “Negeri yang Malam” (Tinta, 2002) buah tangan Agus Ahmad Safei mengatakan, kutu-kutu lebih rajin membaca buku dibanding mahasiswa, juga dosen-dosennya. Perpustakaan bekerja amat santai, bahkan ada hari ketika perpustakaan nganggur sama sekali. Mahasiswa hanya menjadi konsumen komoditas eceran di pasar ilmu. Waktu ke pasar, mereka cukup membawa kantung telinga, otaknya disimpan di dalam almari besi. Ungkapan ini sangat kontras dengan realita yang dihadapi oleh generasi muda Indonesia. Oleh sebab itu perlu adanya perbaikan untuk menumbuhkan kembali semangat minat baca sekaligus budaya membaca dikalangan masyarakat Indonesia. Dengan mengembangkan budaya membaca bagi masyarakat Indonesia diharapkan mampu mencetak generasi-generasi penerus bangsa yang akan membawa perubahan bagi segenap aspek kehidupan masyarakat. Dengan membaca akan membuka cakrawala dunia. membaca merupakan gudang ilmu pengetahuan jika hal yang diperoleh dari membaca diamalkan didalam kehidupan bermasyarakat niscaya allah SWT akan menghitungnya sebagai amal ibadah yang terus mengalir. Disisi lain bahwa kegemaran membaca memberikan efek positif bagi kesehatan yaitu mencegah terserangnya penyakit demensia atau kepikunan dini. Oleh karena itu budaya membaca (reading culture) seyogyanya dapat dijadikan gaya hidup (life style) dan merupakan kebutuhan bagi kalangan muda dan masyarakat Indonesia. Terciptanya budaya membaca yang kuat dikalangan masyarakat Indonesia akan mampu membentuk dan membangun generasi muda Indonesia yang cerdas dan berkualitas.

 

 

 

 

 

Definisi ‘Digital Library’

 

Ketika orang membicarakan mengenai ‘digital library’ sebetulnya ada bermacam-macam pengertian atau definisi yang ada di benak masing-masing orang. Bahkan kecenderungannya mereka akan mendefinisikan sesuai dengan konsep dasar pemikiran, latar belakang atau bidang keilmuan mereka masing-masing. Hal ini tentu membingungkan kita untuk memahami apa sebenarnya ‘digital library’ itu. Menurut Cleveland (1998) setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan kebingungan dalam memahami istilah ‘digital library ‘ ini:

1.       Adanya perbedaan penggunaan istilah oleh komunitas perpustakaan dalam memahami konsep ini seperti electronic library,  virtual library, library without walls—dan tidak pernah ada kejelasan perbedaan makna dari istilah-istilah tersebut. Istilah ‘Digital Library’ sendiri secara sederhana merupakan paling baru dan secara luas digunakan secara ekslusif pada konferensi, online dan dalam literatur-literatur.

2.       ‘Digital libraries’merupakan fokus perhatian dari banyak bidang area riset yang berbeda, dan pemahaman ‘digital library’ tergantung pada masing-masing komunitas riset yang menggambarkannya. Contohnya: (a) dari segi pandang temu kembali informasi, itu merupakan sebuah database yang besar, (b) bagi orang yang bekerja di hypertext technology, itu merupakan satu aplikasi khusus metode hypertext, (c) dan bagi ilmu perpustakaan, itu merupakan langkah lain dalam meneruskan otomasi perpustakaan yang dimulai lebih dari 25 tahun yang lalu.

3.       Hal ketiga yang meningkatkan kebingungan adalah adanya fakta bahwa banyak hal di internet yang oleh orang disebut ‘digital libraries’ dimana –dari sudut pandang pustakawan—bukan. Contohnya: (a) bagi ilmuwan bidang komputer dan pengembang perangkat lunak,  kumpulan algoritma komputer dan program perangkat lunak adalah ‘digital libraries’, (b) bagi perusahaan besar,‘digital library’ adalahsistem manajemen dokumen yang mengontrol dokumen bisnis mereka dalam format elektronik.

Bahkan satu contoh yang cukup spektakuler adalah apa yang banyak orang anggap ‘digital library’ adalah World Wide Web. Web mengumpulkan ribuan dokumen. Banyak yang akan menyebut kumpulan ini sebuah ‘digital library’ karena mereka dapat menemukan informasi, seperti yang dapat mereka lakukan untuk melakukan transaksi bank dalam sebuah ‘digital bank’ atau membeli CD/DVD dalam sebuah ‘digital record store’. Apakah web belum dapat disebut sebagai sebuah ‘digital library?’ Clifford Lynch (1997) dalam Cleveland(1998) menyatakan:

“One sometimes hears the Internet characterized as the world’s library for the digital age. This description does not stand up under even casual examination. The Internet—and particularly its collection of multimedia resources known as the World Wide Web—was not designed to support organized publication and retrievalof information as libraries are. It has evolved into what might be thought of as a chaotic repository for the collective output of the world’s digital ‘printing presses’. … In short, the Net is not a digital library.”

Dari pernyataan Lynch tersebut dapat dilihat bahwa ‘digital library’ bukan sekedar Internet atau akses ke dalam sumber Web.

Cleveland (1998)dalam Occasional Paper IFLA nomor 8, bulan Maret 1998 menyatakan bahwa untuk memahami ‘digital library’ dari sudut pustakawan maka sebagai titik awalnya kita harus mengasumsikan bahwa ‘digital libraries’ adalah perpustakaan dengan maksud, fungsi, dan tujuan yang sama seperti perpustakaan tradisional—yakni manajemen dan pengembangan koleksi, analisa subjek, pembuatan indeks, ketersedian akses, sisi referensinya, dan preservasinya.

Berangkat dari pemikiran tersebut ada beberapa karakteristik yang dapat dilihat berdasarkan berbagai diskusi yang telah dilakukan seputar ‘digital library’ ini, seperti yang sudah dirangkum oleh Cleveland (1998) yakni:

  • Digital libraries are the digital face of traditional libraries that include both digital collections and traditional, fixed media collections. So they encompass both electronic and paper materials
  • Digital libraries will also include digital materials that exist outside the physical and administrative bounds of any one digital library
  • Digital libraries ideally provide a coherent view of all of the information contained within a library, no matter its form or format
  • Digital libraries will serve particular communities or constituencies, as traditional libraries do now, though those communities may be widely dispersed throughout the network
  • Digital libraries will require both the skills of librarians and well as those computer scientists to be viable.

Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa ‘digital library’ bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tapi merupakan sebuah sistem. Definisi yang cukup menggambarkan berbagai karakteristik tersebut dapat dilihat dari apa yang dihasilkan dari Dlib Working Group on Digital Library Metrics (WG) di Stanford University, 7-8 Januari 1998, yakni:

“The Digital Library is the collection of services and the collection of information objects that support users in dealing with information objects and the organization and presentation of those objects available directly or indirectly via electronic/digital means.”

Definisi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa ‘digital library’ lebih dari sekedar koleksi bahan pustaka dalam tempat penyimpanan, tetapi juga memberikan bermacam layanan pada semua pengguna (baik manusia dan mesin, pembuat, manajer, dan pengguna informasi). Tipe objek informasinyapun menjadi bermacam dari ‘dokumen’ tradisional sampai kepada objek ‘hidup’ atau hasil permintaan yang dinamis. Hal lain adalah ‘digital library’ memberikan kepada pengguna kepuasan akan kebutuhan mereka dan hal-hal yang dibutuhkan untuk manajemen, akses, penyimpanan, dan manipulasi bermacam informasi tersimpan dalam koleksi bahan pustaka yang merepresentasikan kepemilikan dari perpustakaan. Bahkan pengertian pengguna disinipun bermacam-macam, dapat pengguna akhir, operator perpustakaan, dan juga ‘penghasil’ informasi. Selain itu penataan dan cara penyajian objek informasi harus menjadi bagian penting dengan memperhatikan unsur estetika. Objek informasi ini dapat juga merupakan objek digital atau bisa juga media lain (misal kertas) tetapi disajikan di perpustakaan melalui perangkat digital (misal metadata). Hal itu mungkin tersedia secara langsung dalam jaringan atau tidak langsung. Sekalipun objek informasi bukan berupa data elektronis atau mungkin tidak secara langsung tersedia dalam jaringan, objek harus dapat disajikan secara elektronis dalam beberapa cara melalui misal metadata atau katalog.  Sehingga pada prinsipnya ‘digital library’ merupakan satu sistem layanan perpustakaan terintegrasi berbasis digital, walaupun cakupan informasi tidak mesti berbentuk digital.

 

Apa pentingnya ‘digital library’?

 

Pertanyaan selanjutnya mengenai kenapa perpustakaan ‘repot’ dengan menerapkan sebuah sistem ‘digital library’ , apa sih arti pentingnya bagi perpustakaan? Ada beberapa alasan yang dapat menjawab pertanyaan itu, yakni:

1.       Untuk meningkatan layanan perpustakaan yang berbasis kebutuhan pengguna, perkembangan teknologi informasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

2.       Untuk memperluas jaringan informasi yang pada gilirannya akan mempermudah akses ke dalam sumber-sumber informasi apapun bentuk dan jenisnya.

3.       Karena kebutuhan akan pelestarian informasi (baik informasi elektronik maupun sumber informasi tercetak).

4.       Untuk meningkatkan pengembangan secara sistematis: perangkat untuk mengumpulkan, menyimpan dan mengatur informasi dan pengetahuan dalam bentuk digital.

5.       Menciptakan sistem terintegrasi yang lebih luas, terjangkau, dan mudah diakses oleh seluruh pengguna dimanapun dan kapanpun berada.

 

Bagaimana ‘digital library’ diterapkan?

 

Beberapa usaha yang mungkin dapat ditempuh dalam rangka menuju sistem ‘digital library’ adalah sebagai berikut:

a.      Pengembangan Sistem Otomasi Perpustakaan

Mengapa sistem otomasi perpustakaan dapat menjadi bagian dari ‘digital library’? Karena melalui sistem otomasi ini sedapat mungkin perpustakaan dapat menampilkan sebuah sistem layanan yang berbasis elektronis yang memungkinkan berbagai macam kemudahan dalam pengelolaan objek informasi. Otomasi perpustakaan ini akan berguna bagi seluruh pengguna perpustakaan seperti pustakawan, manajemen, dan juga pengguna. Berbagai transaksi dan laporan akan ditampilkan secara elektronis/digital melalui sistem otomasi ini. Rekaman transaksi dan laporan kegiatan layanan perpustakaan yang terekam secara elektronis merupakan satu objek informasi penting dapat disediakan oleh perpustakaan. Untuk itu pengembangan sistem otomasi perpustakaan harus dapat menampilkan berbagai macam informasi tidak hanya metadata seperti katalog atau indeks, tetapi juga harus dapat menampilkan berbagai rekaman kegiatan perpustakaan diantaranya transaksi sirkulasi, rekaman keanggotaan, data statistik, rekaman koleksi dan lain sebagainya.

b.      Pengembangan Sistem Informasi Online

                Hal lain yang dapat dilakukan dalam rangka menerapkan konsep ‘digital library’ adalah adanya sebuah sistem informasi online. Hal ini dapat diwujudkan dengan menciptakan sebuah sistem berbasis jaringan baik untuk keperluan intranet dan/atau Local Area Network (LAN) maupun internet dan/atau Wide Area Network (WAN). Saat ini yang paling mudah dan banyak dilakukan adalah menggunakan fasilitas World Wide Web (Web). Melalui Web perpustakaan dapat membangun sebuah sistem informasi online yang menyediakan objek informasi seperti katalog, indeks, arsip, hasil posting newsgroup, koleksi email, sumber komersial, sumber hiburan, artikel personal, hingga layanan perpustakaan (daftar pertanyaan referensi, analisis statistik, pustakawan online, asisten online, dan sebagainya). Selain itu melalui sistem informasi online, perpustakaan dapat menyediakan berbagai koleksi digital yang dimilikinya baik yang dibeli, dilanggan, maupun yang didapat secara gratis.

c.       Pengembangan koleksi digital

Tahap selanjutnya yang perlu dilakukan dalam menerapkan ‘digital library’ adalah membangun koleksi digital. Membangun koleksi digital menurut Cleveland(1998) dapat dilakukan dengan tiga metode penting yakni; digitasi, pengadaan karya digital asli, dan akses ke dalam sumber-sumber eksternal. Digitasi merupakan proses konversi koleksi berbentuk cetak, analog atau media lain --- seperti buku, artikel jurnal, foto, lukisan, bentuk mikro--- ke dalam bentuk elektronik atau digital melalui proses scanning, sampling, atau re-keying.  Pengadaan karya digital asli disini maksudnya adalah mengadakan baik melalui metode membeli atau berlangganan karya digital asli dari penerbit atau peneliti dalam bentuk misalnya jurnal elektronik (e-journal), buku elektronik (e-books), dan database online (seperti Ebsco, Proquest, ScienceDirect, dll). Sedangkan akses ke dalam sumber eksternal disini maksudnya adalah perpustakaan harus mempunyai semacam jaringan kepada sumber lain yang tidak tersedia secara lokal yang disediakan melalui website, koleksi perpustakaan lain, atau server milik penerbit-penerbit.

 

Tantangan apa yang dihadapi?

 

Proses penerapan ‘digital library’ tentunya tidak dapat begitu saja dapat diwujudkan. Ada banyak hal yang perlu dihadapi dan menjadi tantangan bagi perpustakaan dalam mewujudkan ‘digital library’ secara utuh. Beberapa hal yang cukup serius dihadapi dalam pengembangan ‘digital library’ adalah sebagai berikut:

1.       Infrastruktur/Arsitektur Teknis

Hal awal yang dibutuhkan oleh perpustakaan ketika akan menerapkan sistem ‘digital library’ adalah masalah peningkatan dan pembaharuan infrastruktur teknis untuk mengakomodasikan berbagai sumber digital. Infrastruktur itu termasuk didalamnya komponen seperti:

·         Jaringan lokal berkecepatan tinggi dan koneksi internet yang memadai

·         Database yang mendukung bermacam format digital

·         Piranti pencari atau alat telusur untuk indeks dan akses ke sumber informasi

·         Perangkat keras seperti berbagai macam komputer server (Web Server, FTP Server, Database Server, dan sebagainya) dan komputer personal untuk pengguna

·         Perangkat lunak termasuk di dalamnya sistem manajemen dokumen elektronik yang akan membantu keseluruhan proses manajemen sumber-sumber digital misalnya web portal system, program ‘electronic database system’ danlain sebagainya.

2.       Pembangunan Koleksi Digital

Pengembangan dan pembangunan koleksi digital merupakan sebuah tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh perpustakaan dan pustakawan. Perpustakaan harus dapat merancang sebuah kebijakan bagi pembangunan koleksi digital, apakah akan melakukan proses digitasi, apakah akan melanggan/membeli informasi digital, atau apakah hanya akan mengakses ke sumber-sumber eksternal. Perpustakaan juga perlu mengadakan analisis kebutuhan, analisis koleksi yang dimiliki dan analisis sumber daya yang dimiliki (termasuk di dalamnya sumber daya manusia). Hal itu penting untuk mengukur sejauh mana pengembangan koleksi digital dapat dilakukan dan diterapkan. Karena disisi lain pembangunan koleksi digital ini juga merupakan proses kontrol lokal terhadap koleksi yang dimiliki dan juga untuk menjawab kebutuhan akses jangka panjang dan preservasi. Pertimbangan lain adalah dari sisi koleksi itu sendiri seperti kekuatannya, keunikannya, skala prioritas kebutuhan komunitas pengguna, dan juga manajemen porsi atau prosentase koleksi.

3.      Masalah Hak Cipta / Manajemen Hak Milik

Salah satu tantangan dan juga kendala yang sering “menghantui’ dalam proses pengembangan sistem ‘digital library’ adalah masalah hak cipta. Konsep hak cipta yang ada pada karya berbasis cetak kadang terpangkas begitu saja dalam lingkungan digital karena ‘hilang’nya kontrol penggandaan. Objek digital kurang tetap, mudah digandakan, dan dapat diakses secara remote oleh banyak pengguna secara bersamaan. Hal ini tentunya harus diperhatikan dan perlu adanya mekanisme yang memberikan kesempatan kepada perpustakaan untuk menampilkan informasi tanpa merusak hak cipta, dan untuk itu diperlukan semacam manajemen hak milik. Cleveland (1998) menyampaikan beberapa fungsi yang mungkin harus ada dalam manajemen hak milik seperti; (a) jejak penggunaan, (b) identifikasi dan pemberian hak pengguna, (c) memberikan status hak cipta dari setiap objek digital, dan pembatasan penggunaan atau pencantuman biaya di dalamnya, (d) menangani transaksi dengan pengguna dengan mengijinkan hanya beberapa salinan dapat diakses, atau dengan mengenakan tarif untuk tiap salinan, atau langsung meminta kepada penerbit. Melalui beberapa hal tersebut diharapkan masalah hak cipta ini paling tidak dapat sedikit terkurangi resikonya.

4.      Promosi/pemasaran dan aksesibilitas

Masalah lain yang penting untuk disampaikan disini sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh perpustakaan dalam rangka penerapan sistem ‘digital library’ adalah masalah penggunaan dan akses ke dalam ‘digital library’ yang sudah sedemikian rupa disediakan. Banyak kasus dijumpai bahwa perpustakaan terlena dengan apa yang sudah dapat disediakan tetapi lupa akan bagaimana pengguna mengetahui keberadaan fasilitas yang sudah disediakan tersebut. Disini masalah promosi atau pemasaran menjadi penting. Karena apabila ‘digital library’ yang sudah dibangun dengan susah payah menghabiskan banyak tenaga, waktu dan biaya tidak diketahui oleh pengguna maka efeknya aksesibilitas terhadap ‘digital library’ ini akan menjadi sangat kurang dan tidak signifikan dengan biaya yang dikeluarkan. Artinya nilai ekonomisnya akan hilang. Perpustakaan harus menyediakan informasi yang cukup kepada pengguna dengan merancang sistem promosi atau pemasaran yang tepat. Hal ini bisa dilakukan menggunakan berbagai media informasi yang tersedia seperti brosur, leaflet, website, banner, spanduk, buku panduan atau bahkan melalui sebuah pelatihan atau program rutin orientasi bagi pengguna. Semakin gencar dan mudah pengguna mendapatkan informasi mengenai ‘digital library’ ini maka tingkat aksesibilitasnya akan semakin tinggi. Untuk mengukur tingkat aksesibilitas sebuah ‘digital library’ maka perpustakaan perlu juga memasang sistem pelacakan (tracing) dan tracking yang dapat memberikan data tingkat aksesibilitas ‘digital library’ yang ada.

C.   Penerapan Digital Library Sebagai Langkah Strategis Menstimulasi Budaya Membaca Di Masyarakat

Melihat realitas tersebut sungguh memprihatinkan kondisi masyarakat Indonesia berkaitan dengan budaya membaca di kalangan masyarakatnya. Dengan demikian sudah menjadi tanggung jawab bahwa perpustakaan sebagai sumber ilmu memiliki peran strategis dalam mewujudkan masyarakat yang gemar dan berbudaya membaca. Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Maka dari itu sebagai bentuk amanah dari UUD 1945 kewajiban negara yang hendak mencerdaskan kehidupan bangsa maka selain sistem pendidikan yang ditata dengan baik juga meliputi sistem tata kelola perpustakaan perlu mendapatkan perhatian guna merangsang minat baca masyarakat untuk menggali dan memahami bidang keilmuan sesuai dengan kebutuhannya.

Definisi perpustakaan berdasarkan UU No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan adalah“institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”.

Ketentuan pasal 2 UU No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menjelaskan bahwa “Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan”.

Ketentuan Pasal 3, “Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa”. Sedangkan ketentuan pasal 4, “Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian bisa di ambil intisari bahwa hadirnya perpustakaan merupakan wujud komitmen negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangu generasi yang berkualitas melalui budaya membaca

Perpustakaan sebagai sistem pengelolaan rekaman gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan umat manusia, mempunyai fungsi utama melestarikan hasil budaya umat manusia tersebut, khususnya yang berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam lainnya, serta menyampaikan gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan umat manusia itu kepada generasi-generasi selanjutnya. Sasaran dari pelaksanaan fungsi ini adalah terbentuknya masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat. Di sisi lain, perpustakaan berfungsi untuk mendukung Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan. Selain itu, perpustakaan sebagai bagian dari masyarakat dunia ikut serta membangun masyarakat informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagaimana dituangkan dalam Deklarasi World Summit of Information Society-WSIS, 12 Desember 2003. Deklarasi WSIS bertujuan membangun masyarakat informasi yang inklusif, berpusat pada manusia dan berorientasi secara khusus pada pembangunan. Setiap orang dapat mencipta, mengakses, menggunakan, dan berbagi informasi serta pengetahuan hingga memungkinkan setiap individu, komunitas, dan masyarakat luas menggunakan seluruh potensi mereka untuk pembangunan berkelanjutan yang bertujuan pada peningkatan mutu hidup.

Seiring dengan perkembangan zaman diikuti pula dengan perkembangan tekonologi yang sangat pesat. Salah satu bentuk perkembangan teknologi tersebut dalam bentuk teknologi Informasi (TI). Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika. Sehingga secara globah untuk memudahkan pemahaman akan teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima sehingga: lebih cepat, lebih luas sebarannya, lebih lama penyimpanannya. Dengan demikian sebagai acuan dalam membangun iklim kondusif bagi perkembangan dan pembangunan dunia perpustakaan maka harus mengacu pada standar yang disebutkan dalam ketentuan pasal 11Undang-Undang tentang Perpustakaan. Adapun standart perpustakaan tersebut terdiri atas:

a.standar koleksi perpustakaan;
b. standar sarana dan prasarana;
c. standar pelayanan perpustakaan;
d. standar tenaga perpustakaan;
e. standar penyelenggaraan; dan
f. standar pengelolaan.

Maka dari itu penerapan teknologi informasi dalam bentuk digital library akan memudahkan dalam menciptakan iklim yang kondusif sebagai modal utama membangun masyarakat yang gemar membaca. Berpangkal dari kegemaran membaca maka akan menimbulkan sebuah budaya membaca sehingga aktivitas membaca merupakan bagian dari pola hidup masyarakat Indonesia. Dengan demikian adanya tata kelola perpustakaan yang berbasis pada penerapan digital library merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkecimpung di perpustakaan yaitu para pustakawan juga dituntut untuk memberikan fasilitas pelayanan yang optimal kepada masayarakat dalam mengakses kebutuhan-kebutuhan masayarakat yang berkaitan dengan khazanah kekayaan intelektual yang dituangkan dalam bentuk karya buku maupun koleksi yang terspat di perpustakaan.

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa minat baca masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam konteks inilah perpustakaan memiliki peran strategis untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam rangka untuk mendorong dan menstimulai masyarakat agar tumbuh minat membaca dan tercipta budaya membaca. Salah satu langkah konkrit untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui konsep digital library sebagai sebuah acuan untuk mencapai standar operasional perpustakaan sebagaimana termuat di dalam UU No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

BLOG NAOMI TIRAHANI LAINNYA

Tugas LIBUR ( IPA )

A.    Pengertian Bunyi Tuhan telah menciptakan telinga sebagai alat untuk mendengar. Setiap saat kamu bisa mendengar bunyi orang berbicara, suara nyanyian, suara musik, suara binatang, suara lonceng, dan sebagainya. Oleh karena itu, kamu wajib mensyukuri nikmat Tuhan yang telah...

Read More

NAOMI TIRAHANI 00:00:00 22-04-2012

Tugas LIBUR ( Matematika )

Pengertian Prisma Suatu bangun ruang yang bentuk dan ukuran sisi atas dengan sisi bawah sama serta rusuk-rusuk tegak yang sejajar disebut prisma. Sebuah bangun prisma ditentukan oleh bentuk alasnya. Maksudnya bahwa penamaan suatu prisma berdasarkan bentuk alasnya, contohnya, suatu bangun ...

Read More

NAOMI TIRAHANI 00:00:00 22-04-2012

Tugas Liburan ( Bahasa Indonesia )

Cerita Pendek:   Cinta Sejati Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya). A...

Read More

NAOMI TIRAHANI 00:00:00 25-03-2012

TUGAS LIBURAN ( TIK )

A.     Perkembangan Minat Baca di Indonesia Pembinaan dan peningkatan mutu minat baca masyarakat merupakan paradigma yang perlu mendapat perhatian  serius. Hal ini disebabkan oleh adanya keprihatinan bahwa bangsa Indonesia menduduki peringkat yang bisa dikategorikan s...

Read More

NAOMI TIRAHANI 00:00:00 25-03-2012

TUGAS LIBUR TUC KELAS 9

                                                 &nb...

Read More

NAOMI TIRAHANI 00:00:00 18-03-2012

ARSIP

  • November 2021(15)
  • Oktober 2021(15)
  • November 2020(7)
  • Oktober 2020(10)
  • September 2020(9)
  • Agustus 2020(3)
  • Juli 2020(1)
  • Juni 2020(2)
  • Mei 2020(4)
  • April 2020(12)
  • Maret 2020(83)
  • April 2017(1)
  • Januari 2017(1)
  • Oktober 2016(1)
  • Desember 2015(5)
  • November 2015(1)
  • Oktober 2015(1)
  • September 2015(2)
  • Agustus 2015(1)
  • Juli 2015(1)
  • Mei 2015(1)
  • April 2015(1)
  • Maret 2015(1)
  • Desember 2014(2)
  • November 2014(1)
  • Oktober 2014(11)
  • September 2014(6)
  • Agustus 2014(1)
  • Juni 2014(2)
  • April 2014(2)
  • Maret 2014(1)
  • Desember 2013(1)
  • Oktober 2013(3)
  • September 2013(1)
  • Juni 2013(1)
  • Maret 2013(26)
  • Februari 2013(38)
  • Januari 2013(8)
  • Desember 2012(23)
  • November 2012(8)
  • Juni 2012(29)
  • Mei 2012(17)
  • April 2012(248)
  • Maret 2012(436)
  • Februari 2012(215)
  • Januari 2012(486)
  • Desember 2011(647)
  • November 2011(39)
  • Oktober 2011(272)
  • September 2011(81)
  • Agustus 2011(115)
  • Juli 2011(153)

PENULIS

  • NUR AZIZAH(430)
  • SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
  • ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
  • UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
  • Naufal Rasyid(107)
  • RISA ANJANI(106)
  • MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
  • NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
  • Fauzi Firdaus(47)
  • ALI SYAUQI(46)
  • ELITA AVIANTI DARMA(43)
  • FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
  • NABILA ISNAENI AMALIA(38)
  • RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
  • ANDHIKA FIRDAUS(28)
  • ADAM RAMADHAN(26)
  • RINDANG NOOR ALIFA(25)
  • HERI SUHARSO(25)
  • RUSMIATI(24)
  • ANITA PUJI ASTUTI(18)

SMP NEGERI 7 BOGOR

SMP NEGERI 7 BOGOR

  • Homepage
  • Informasi Sekolah
  • Profil Sekolah
  • Kegiatan
  • Prestasi Sekolah
  • Sarana Sekolah
  • Sumber Daya Manusia
  • Gerakan Literasi Sekolah

Blog

  • Blog Guru
  • Blog Siswa
  • Blog Ekskul
  • Blog OSIS

Sambutan Kepala Sekolah

Assalamualaikum Wr.WbPuji syukur kehadirat Allah SWT atas karunianya SMP Negeri 7 Bogor dapat menyajikan informasi melalui website sekolah ini.Di era global dan pesatnya teknologi informasi, keberadaa...Read More

© SMP NEGERI 7 BOGOR. All rights reserved.