Sejak Usia 9 Tahun Berkali-kali Bilang Ingin Kalahkan China
Biasanya, anak berusia 12 tahun masih senang main-main. Tapi Edgar Xavier Marvelo, sudah menorehkan prestasi gemilang. Edgar berhasil menggondol juara dunia wushu kategori junior. Bagaimana kisahnya?
POLOS dan lugu. Begitulah pemba-waan Edgar Xavier Marvelo. Tapi, eeiitt, jangan coba-coba cari perkara sama dia. Kita bisa ditekuk dengan jurus-jurus maut wushunya. Edgar seorang juara dunia wushu yunior toya atau tongkat di Singapura. 20-23 Desember 2010. Kejuaraan ini diikuti 43 negara.
Indonesia berhasil meraih juara per-tama. Posisi kedua diduduki Jepang. Sedangkan juara ketiga disabet Makau. "Saya dengan Jepang hanya terpaut 0,01 persen." kata Edgar kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari di ruang kerjanya, kemarin. Edgar, kedua orangtua, dan pelatihnya diundang secara khusus sebagai bentuk apresiasi yang positif dari pemerintah.
Edgar menyiapkan diri selama tiga bulan sebelum bertanding. Hampir tiap hari latihan. Dilatih oleh jiaolien (guru). Namanya Gogi. Pelatihnya sendiri orang Indonesia pertama yang mendapat "emas" pada pertandingan wushu sedunia pada 2007.
Anak kelahiran Jakarta. 16 Desember 1998. ini menyukai wushu sejak usia 9 tahun. Saat itu. Edgar mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di Jubili School. Tapi karena orangtuanya melihat sang buah hati punya bakat, dia akhirnya diarahkan ke Sasana Harmony Wushu
Indonesia.
Edgar mendalami olahraga Wushu sejak usia 9 tahun dan berhasil menjadi atlet
DKI. Kini, siswa kelas 6 SD itu memiliki segudang prestasi seperti Peringkat Empat se-Asia (2009) dan berhasil menyabet
Juara Pertama Nasional berturut-berturut pada 2009 dan 2010. Dan, setelah menyabet juara dunia wushu di Singapura, obsesinya kini adalah ingin menjadi juara di Olimpiade. "Saya ingin mengalahkan China. Sejak usia 9 tahun saya ulang-ulang terus kata-kata ini," cerita Edgar.
"Cita-cita kamu nanti mau jadi apa?" tanya Meneg PP-PA Linda Amalia San kepada Edgar. "Saya ingin mengalahkan China," jawab Edgar mantap. Mendapat jawaban itu, sang menteri tampaknya kurang puas. "Maksudnya selain menjadi atlet, apakah ada keinginan ingin berprofesi sebagai apa?" Ditanya begitu, jawaban Edgar tidak berubah. "Saya ingin mengalahkan China." tegas dia.
Jawaban Edgar kali ini memuaskan sang menteri. "Benar, itu harus terus diingatkan. Kalau termotivasi juara, pasti juara. Ingat Jepang, kompetitor kamu yang nilainya hanya terpaut 0,01," tutur Linda mengingatkan. "Juga jangan lupasekolahnya." lanjut Linda.
Kesibukan latihan terkadang membuat Edgar harus pandai membagi waktu. Karena itu. setiap ada kesempatan, selalu dipakai untuk belajar atau mengerjakan PR. "Begitu sibuknya, saya mengerjakan PR di mobil atau saat tiba di sekolah." ungkap dia.
Meski jago wushu, anak kelahiran Jakarta, 16 Desember 1998. im cinta damai. Dia belajar olahraga asal Tiongkok ini bukan untik berkelahi, apalagi memukuli orang. "Saya belajar wushu untuk keindahan, olahraga, dan belachn. "ujar Edgar
"Situasi sekarang ini banyak kasus yang membelit anak. Semoga un (Edgar) bisa membawa optimisme bahwa banyak juga anak berprestasi Indonesia." kala Deputi Tumbuh Kembang Anak Wahyu.
"Semoga ini bisa memotivasi anak-anak lainnya dan dapat membawa imbas positif bagi teman-temannya di sekolah." tukas Linda. (*)

