Blog Siswa
tugas cerpen
aku dan kota malang
Di kesunyian,alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu,terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka,pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.20. Aku tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan itu,penuh dengan makna. Aku masih terbaring, ku kumpulkan semangatku saat itu. Aku terbangun dan langsung membuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus menyegarkan, terlihat pohon bagaikan sedang menari nari. Walaupun memang masih gelap. Aku siap melewati hari ini ucapku.
Aku berjalan menuju ruang makan, aku melihat ibu telah menyiapkan makan untuk sahur. Hari ini hari senin,sudah menjadi amalan kami untuk berpuasa setiap hari senin dan kamis. Aku tersenyum pada ibu,kuteruskan langkahku untuk membasuh muka,menyegarkan wajah kusutku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan, aku dan ibuku,ya karna tidak ada orang lagi.
“Sudah siapkah semua barangnya, Nak?” tanya ibuku. “Tentu saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja”, jawabku. “Hati-hati ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa” ucap ibuku, sedikit khawatir. “Tenang saja, Bu. keila bisa jaga diri kok, insya Allah”, ujarku. “Baguslah kalau begitu. Seusai shalat subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun”. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. melanjutkan membereskan apa saja yang harus ku bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat subuh aku malah terdiam dan merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud. Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut. “Kak!” ucap ayahku dengan keras. “Iya Ayah?” jawabku kaget.
“Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat tertinggal kereta” ucap ayahku cemas. “baiklah Ayah”.
Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu tak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila harus menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.
“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdo’a. Tetap semangat, jangan lupa ibadahnya”, nasehat dari ibuku.
“Baik, Bu. Do’akan saja keila semoga semuanya bisa barakah bagi kehidupan keila” ucapku, dengan mata yang cukup berkaca-kaca.
“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendo’akanmu. Kalau begitu lekaslah, takut ketinggalan kereta”, ucap ibuku dengan air matanya yang menetes.
“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum”, ucap ayahku.
“Wa’alaikumsalam”, jawab ibuku.
Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Air mata membasahi pipi ibu. Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut terjatuh, hatiku luluh. Segera ku bergegas menaiki motor sambil menghapuskan air mataku. Begitu dinginnya subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri. “Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdo’a di jalan. Kabari ayah kalau sudah sampai”. ucap ayahku dengan lembut. “Baik, Ayah. Doakan keila ya”, ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang menetes.
Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta hingga sampai jauhnya. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata. Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di dalam hati aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus selalu kulakukan.
Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.
Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat semua itu.
Dari pagi sampai siang, gerbong yang ku tempati memang penuh. Namun ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai kosong, maklumlah memang tujuan yang ku tuju adalah stasiun pemberhentian akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu di Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri.. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen dan juga para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu.
Bapak/Ibu, mohon kasihani kami. Kami belum makan, kami lapar. Mohon minta keikhlasannya. Semoga amalan Bapak/Ibu diterima di sisi Allah, Amin.
Itulah kata-kata yang tertulis di amplop itu. Hati kecil ini merenung, betapa kerasnya kehidupan mereka. Kulihat dompetku, tak begitu banyak uang di sana. Kusisihkan sedikit saja, mungkin dapat membantu mereka. Mereka tidak mungkin berbohong, kalaulah memang mereka berbohong, aku yakin bahwa mereka membutuhkan uang dari orang lain. Sungguh hatiku tersentuh melihat anak kecil itu.
Sesekali aku melihat ke ujung kereta, duduk seorang lelaki berkaos merah tadi. Teringat kembali rasa bersalahku tadi. Aku hanya diam. Walaupun begitu, aku masih tetap saja ingin berdiri di dekat pintu kereta. Akupun berdiri kembali di sana, di dekatku duduk lelaki itu. Namun dia tidak menolehku sedikitpun, dia sepertinya marah padaku.Aku pun memakluminya bila dia bersikap seperti itu padaku. Handphone ku bergetar, ku kira ada telepon dari ayah atau ibu, ternyata hanya sms dari operator seluler. Aku terdiam kembali, aku lupa tidak mengisi pulsaku, jadi aku hanya bisa menunggu telepon dari orang tuaku.
Aku kembali merenung, melamun. Itulah kebiasaanku di waktu senggang, memikirkan berbagai hal, memberaikan segala fantasi yang ada di benakku.
tidak terasa sebentar lagi sudah sampai di stasiun tujuanku yaitu stasiun malang. Aku sangat senang sekali tidak menyangka bahwa aku bisa meraih cita-cita ku, dengan keadaan ekonomi yang kurang baik bukan jadi halangan untuk aku bisa mencapai mimpiku, berkat usaha dan doa dari ayah dan ibu, aku bisa sampai dititik ini.
akhirnya aku pun sampai distasiun malang, aku segera merapihkan barang bawaan ku, yang lumayan banyak ini, aku turun dari kereta dan tidak sengaja menabrak wanita, yang kalau dki lihat sih seumuran ku. “ maaf kak, saya tidak sengaja” ucap ku. “ tidak apa-apa, sepertinya kamu dari luar kota ya? “ ucap wanita itu. “ iya kak, saya berasal dari bogor dan melanjutkan pendidikan ke universitas brawijaya “ jawab ku.
“ wah tidak disangka, bahwa kita satu kampus “.
Mendengar itu aku sangat senang sekali, lalu aku berkenalan dengan wanita itu. Kita berbincang cukup lama, berkenalan satu dengan yang lain.
Tasya, nama wanita itu.
Tasya mengantarkan ku ke tempat tinggal ku di Malang, aku memilih tinggal ditempat kost wanita, yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Sekarang aku bersahabat dengan tasya. Wanita seusiaku yang bertemu di stasiun waktu itu.
Aku dan Tasya menjalankan pendidikan di jurusan yang sama yaitu fakultas kedokteran. Ya aku dan Tasya memiliki cita-cita yang sama ingin menjadi dokter.
Hari ini tepat dimana pertama kali aku masuk ke kampus, rasanya tidak percaya aku bisa melanjutkan pendidikan tinggi seperti ini tanpa mengeluarkan biaya, aku sedikit kaku karena aku belum terlalu mengenal satu dengan yang lain. Wajar bukan? toh baru hari pertama. Aku memasuki ruangan kelas bersama Tasya, tidak lama kemudian dosen pembimbing pun masuk ke kelas dan menyampaikan materi-materi hari ini.
Aku belajar dengan sangat semangat dan serius karna aku tidak ingin mengecewakan kedua orangtua ku. Setelah selesai kelas aku pun kembali ke tempat kost dan segera menelepon ibu dan ayah, rasanya kangen sekali dengan mereka padahal baru dua hari. “assalamualaikum bu, gimana kabar ibu dan ayah ? “ tanya ku. “waalaikumsalam nak, ibu dan ayah baik-baik saja, gimana kabar mu nak“ jawab ibu. “ alhamdulilah bu, keila baik-baik saja dan sudah memiliki teman disini, semuanya lancar ko bu, doain keila terus ya “. “ pasti nak “ jawab ibu.
Cukup lama aku berbincang dengan ibu dan ayah karna aku sangat merindukan mereka. “ bu aku tutup dulu telepon nya ya, aku masih ada tugas yang harus diselesaikan “ ucap ku, aku masih harus mengerjakan tugas yang diberikan dosen walaupun aku masih sangat merindukan orang tua ku. “ semangat ya nak, sehat-sehat disana “ ucap ibu.
Telepon pun terputus. Aku melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen ku itu, sudah satu jam aku mengerjakan tugas, akhirnya selesai juga.
Besok adalah hari minggu, tidak ada kegiatan di kampus, aku merencanakan liburan bersama Tasya, karna aku ingin tau lebih dalam tentang kota yang sekarang aku singgahi ini, kota malang.
Rasanya jenuh sekali bila aku terus-terusan diam dikost, lebih baik mencari suasana baru kan.
Hari minggu pun tiba, aku pergi liburan bersama Tasya, sungguh senang sekali rasanya, menurutku kota ini sangat nyaman sekali. Tasya berasal dari kota malang, jadi ia sudah tau seluk beluk kota ini. Ia mengajak ku pergi ke berbagai tempat yang memang populer.
“ gimana menurutmu kei, kota ini sangat indah bukan “ tanya tasya. “ sangat sangat indah sya “ jawab ku.
Aku dan tasya pergi mengunjungi kampung warna warni dimalang, melihat desa yang dihiasi oleh warna-warna cantik seperti pelangi. rumah bahkan atapnya pun berwarna warni. sungguh indah bukan, jarang sekali aku melihat pemandangan seperti ini.
waktu pun terus berjalan, aku sudah sangat lelah dan memutuskan untuk pulang saja, aku tidak ingin badan aku sakit karna kecapean, besok sudah waktunya masuk kuliah lagi.
Aku dan Tasya mengambil kuliah d3 dimana waktu kita belajar kita hanya 2,5 tahun - 3 tahun.
hari-hari ku terus berjalan seperti itu. Sampai kelulusan pun tiba. Yaa!!! aku dan tasya lulus dengan ipk yang cukup tinggi, senang sekali rasanya, usaha ku tidak sia-sia, benar ya kata orang ‘ usaha tidak akan menghianati hasil ‘
aku dan tasya pun melempar toga bersama sama.
Aku dikejutkan dengan kedatangan ibu dan ayah, mereka datang dihari yang spesial ini, hari kelulusan ku. Ayah dan ibu terlihat sedang mencari ku, akupun memanggil mereka. “ Ayah, ibu, keila disini “ aku teriak dengan suara yang keras. “ anakuuu “ ucap kedua orangtua ku. Mereka memeluku dengan sangat erat, perasaan rindu, bahagia, terharu, yang kita rasakan saat ini. Air mata membasahi pipi kami.
“ selamat untuk putri ayah, ayah bangga pada mu nak “ ucap ayah ku dengan nada yang begitu halus. “ terimakasih ayah, aku berada dititik ini itu berkat kerja kerasmu “ ayah memeluk ku, aku tidak bisa menahan air mata, sehingga air mata terus membanjiri pipiku.
hari yang sangat spesial bagiku, hari kelulusan dan bisa bertemu keluarga, mimpiku telah tercapai, terimakasih ayah dan ibu yang selalu mendukung ku dan mendoakan ku.
nama: wulan hendrawati
kelas: IX-5
BLOG WULAN HENDRAWATI LAINNYA
tugas cerpen
aku dan kota malangDi kesunyian,alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu,terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka,pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.20. Aku tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan it...
Read MoreWULAN HENDRAWATI 18:09:21 30-11-2021
ARSIP
- November 2021(15)
- Oktober 2021(15)
- November 2020(7)
- Oktober 2020(10)
- September 2020(9)
- Agustus 2020(3)
- Juli 2020(1)
- Juni 2020(2)
- Mei 2020(4)
- April 2020(12)
- Maret 2020(83)
- April 2017(1)
- Januari 2017(1)
- Oktober 2016(1)
- Desember 2015(5)
- November 2015(1)
- Oktober 2015(1)
- September 2015(2)
- Agustus 2015(1)
- Juli 2015(1)
- Mei 2015(1)
- April 2015(1)
- Maret 2015(1)
- Desember 2014(2)
- November 2014(1)
- Oktober 2014(11)
- September 2014(6)
- Agustus 2014(1)
- Juni 2014(2)
- April 2014(2)
- Maret 2014(1)
- Desember 2013(1)
- Oktober 2013(3)
- September 2013(1)
- Juni 2013(1)
- Maret 2013(26)
- Februari 2013(38)
- Januari 2013(8)
- Desember 2012(23)
- November 2012(8)
- Juni 2012(29)
- Mei 2012(17)
- April 2012(248)
- Maret 2012(436)
- Februari 2012(215)
- Januari 2012(486)
- Desember 2011(647)
- November 2011(39)
- Oktober 2011(272)
- September 2011(81)
- Agustus 2011(115)
- Juli 2011(153)
PENULIS
- NUR AZIZAH(430)
- SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
- ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
- UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
- Naufal Rasyid(107)
- RISA ANJANI(106)
- MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
- NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
- Fauzi Firdaus(47)
- ALI SYAUQI(46)
- ELITA AVIANTI DARMA(43)
- FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
- NABILA ISNAENI AMALIA(38)
- RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
- ANDHIKA FIRDAUS(28)
- ADAM RAMADHAN(26)
- RINDANG NOOR ALIFA(25)
- HERI SUHARSO(25)
- RUSMIATI(24)
- ANITA PUJI ASTUTI(18)