Blog Siswa

Bulan Juni lalu

KEZIA SALSABILA PUTRI | 31-10-2021 23:41:49

Namaku Nayanika Quella, tinggal di kota orang bukan hal yang mudah bagiku, Orangtua ku tinggal di Bekasi, sedangkan Aku di Kota Yogyakarta, bukan tanpa sebab Aku tinggal beda Kota dengan Orangtua, Aku kuliah di salahsatu universitas ternama yang berada di Kota Jogja.

Ibu ku meninggal ketika melahirkan ku, sangat bersyukur karena mempunyai Ayah yang bertanggungjawab.

Ayah ku bekerja sebagai buruh, ia sangat memprioritaskan pendidikan sehingga aku di haruskan kuliah.


Di waktu gelapnya malam, aroma teh hijau menguar bersama butiran air hujan yang baru saja turun.

Aku baru saja selesai dengan rutinitas ku, aku bekerja paruh waktu untuk menambah keuangan.

Merilekskan sejenak otot-otot sembari menyeruput teh, lalu mengambil handphone yang tergeletak di nakas.

"Assalamualaikum, Ayah, sudah tidur ?," Tanya ku ketika sambungan terhubung.

"Waalaikumussalam, belum nak, ini baru selesai membenarkan atap genteng yang bocor," Jawab ayah dengan nada rendah.

"Ayah sehat disana ?," Tanya ku, lagi.

"Alhamdulilah sehat, kamu gimana ? jaga kesehatan ya Nak, belajar yang rajin," Jawab Ayah sekaligus memberi Nasihat pada ku.

"Alhamdulilah sehat juga, Naya selalu semangat demi Ayah," Jawab ku dengan nada antusias.

Percakapan dengan Ayah berlanjut sampai pukul 10 malam.

"Ayah, selalu mendoakan Naya," Kata penutup dari Ayah, sebelum kita mengakhiri sambungan telepon.


Di bawah Adiwarna langit, aku berjalan kaki menuju kampus yang tak jauh dari kost yang aku tempati.

Syukurlah, hari ini udaranya sejuk.

Biasanya aku berangkat bersama temanku yang bernama Aelxa, namun, hari ini ia sakit, akupun berencana untuk menjenguk Aelxa sepulang kuliah nanti.

Jarak antara kost ku dengan kampus, bila berjalan kaki, 15 menit sudah sampai.

Sebenarnya bisa saja aku naik kendaraan umum, tapi untuk berhemat aku lebih baik jalan kaki, toh ga jauh jauh banget.


Kelas sudah selesai, seperti yang sudah direncanakan, aku akan ke rumah Aelxa untuk menjenguk.

Untung saja, hari ini aku libur bekerja, jadi aku bisa menjenguk Aelxa.

Rasanya tak enak apabila bertamu ke rumah orang hanya dengan tangan kosong.

Aku pergi ke minimarket untuk membeli roti, susu, dan buah.

Setelah itu, aku pergi berjalan kaki ke rumah Aelxa, kali ini aku menggunakan kendaraan umum untuk tak memakan waktu yang banyak, karena aku harus mengerjakan tugas.

Setelah sampai, aku mengetuk pintu rumahnya, yang langsung di buka-kan oleh Ibu Aelxa.

"Eh Nak Naya, ayo masuk masuk," Sapa Ibu Aelxa menyuruh ku masuk ke dalam rumah, sebelumnya Ibu Aelxa sudah mengenal ku, karena Aku kerap kali main ke rumah Aelxa.

Saat membuka pintu kamar Aelxa, aku bisa lihat dengan jelas Aelxa meringkuk di kasur.

"Ael, bangun Nak, ini ada Naya," Ibu Aelxa mencoba membangunkannya, tak lama kemudian dia langsung duduk bersandar di kasur.

Lalu kami mengobrol, Aelxa bercerita dia sakit karena telat makan.

Setelah di rasa hari sudah mulai larut, aku berpamitan pulang di antar oleh Abang dari Aelxa, sebelumnya aku sudah menolak, aku bilang untuk pulang sendiri saja, tapi Ibu dan Aelxa melarang, katanya biar mereka tak khawatir, karena di luar sudah sudah terlihat hujan akan turun.


Ketika aku sampai kost, butiran air hujan turun.

Udara dinginnya menusuk sampai ke tulang,

hingga aku memutuskan untuk membuat teh, agar sedikit lebih hangat.

Lalu, mulai membuka laptop dan buku buku untuk mengerjakan tugas kuliah.

Hingga pukul 11 malam, Aku baru saja selesai dengan tugas ku. Membuat ku langsung berhambur ke atas kasur.


Seiring berjalannya waktu, tak terasa aku sudah sidang skripsi, hanya tinggal proses menuju Wisuda.

Aku benar - benar fokus pada proses menuju Wisuda.

Pada Wisuda nanti, Ayah akan ke Jogja, melihat anak satu-satunya ini lulus kuliah.

Aku selalu berdoa pada Tuhan, semoga Ayah sehat selalu agar bisa hadir.

Waktu terus berjalan, Aku bilang pada Ayah, bahwa satu Minggu sebelum acara, aku akan menjemput dia, sebelumnya akan aku ajak ia keliling Kota Jogja, menikmati betapa romantisnya Jalan Malioboro ketika hujan, melihat banyaknya senyuman dan tawa banyak orang, yang terlihat bahagia di tengah keramaian.

Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menghendaki.


Di waktu siang yang cerah, namun justru aku bagai tersambar petir.

Dapat kabar dari tetangga Ayah, bahwa Ayah berada di rumah sakit, jantungku mencelos, pergerakan ku seolah terkunci, mulut ku membisu.

Perlahan-lahan aku tersadar dalam tangis, segera memesan tiket pesawat secepat mungkin, menggunakan uang tabungan, untuk menemui Ayah.

Di perjalanan, Aku berdoa agar selamat sampai tujuan dan bisa menemui Ayah dalam keadaan sadar.

Pikiran ku tentu kacau balau, tapi aku harus tetap tegar.

Tetangga Ayah sudah memberi alamat rumah sakit dan nomor kamar yang Ayah tempati.

Ternyata, Ayah sudah sadar dan aku di ijinkan untuk masuk.

Tanpa aba aba, Aku berhambur dalam pelukan Ayah.

Ayah lemas, ia hanya mengusap kepala ku pelan.

"Ayah tidak apa apa, Nak," Ucap Ayah, bahkan di situasi seperti ini, Ia masih mengatakan bahwa ia, tidak apa apa.

Aku masih menangis.

Lalu, tiba tiba Ayah mengatakan, "Apabila Ayah tidak bisa hadir di Wisuda kamu, jangan marah ya, setidaknya tugas Ayah sudah selesai, jika nanti sudah sukses jangan pernah angkuh ya, Nak, karena itu semua hanya titipan dari Tuhan, tetap rendah hati ya," Ayah berucap dengan nada lirih, nyaris tak terdengar.

"Ayah, tenang aja ya, sekarang sembuh dulu, katanya mau liat Naya wisuda kan ?," Ucap ku dengan seseguka tanpa aku sadari, Ayah sudah tak memberi respon, matanya tertutup rapat, bibirnya membentuk senyuman tenang.

Saat memanggil Dokter dan mendengar penjelasan Dokter, dada ku bagai ditusuk ribuan belati, tangan ku bergetar hebat nyaris pingsan.

Ayah pergi, meninggalkan aku, meninggalkan orang orang yang menyayangi beliau.


Di depan gumpalan tanah, aku bergumam, "Selamat jalan Ayah, udah ga sakit lagi ya," bibir ku tersenyum tapi hati ku jelas sesak.

Bibi dan Paman berada di sebelah ku, mencoba menenangkan.

"Udah tenang, beliau sudah sembuh dari sakitnya," Ucap Bibi pada ku.

Setelah 3 hari, aku kembali ke Jogja, aku akan segera Wisuda.

Tanpa diduga, Aelxa dan Abangnya datang menemui ku ke Bekasi, aku baru mengabari Aelxa setelah satu hari Ayah meninggal.

Ia menjemput ku untuk kembali ke Jogja.

"Harus tetap Wisuda, Ayah kamu pasti tersenyum nanti melihatnya," Ujar Abang Aelxa kala itu, yang di angguki Aku dan Aelxa.

Tiba lah hari dimana Aku Wisuda, sampai saat ini masih ber-angan angan Ayah masih ada dan melihat aku Wisuda.

Jantungku berdebar ketika nama Ku dipanggil.

Aku senang, karena keinginan Ayah terwujud.


Setelah setahun, aku sudah bekerja di rumah sakit, sebagai Dokter.

Aku masih menetap di Jogja, sendiri.

Hubungan pertemanan ku dengan Aelxa masih berlanjut sampai sekarang.

Hari ini, hujan dibulan Juni turun, lagi.

Tiap rintik nya seakan memaksaku untuk mengingat masa lampau, dulu, di bulan Juni tahun lalu, pernah menjadi bulan terberat untuk ku, seakan lentera yang menjadi penghantar jalan ku sudah mati.

Kini lentera itu sudah bercahaya lagi, meskipun sudah tak seterang seperti dulu, kini, sedikit redup.

Kini, semua sudah membaik, aku sudah berdamai dengan masa lalu, kematian Ayah ku memang sudah takdir, Tuhan lebih menyayangi Ayah, daripada aku menyayangi Ayah.

Sekarang, aku sudah ikhlas, walau kadang rasa rindu kerap kali menghampiri.

Ayah, Ibu, ragamu memang tiada, tetapi Engkau akan selalu menempatkan ruang khusus di hatiku, terimakasih atas segala perjuangan yang telah Engkau berikan, maaf bila aku pernah mengecewakan Mu.


Kezia Salsabila Putri

IX.5












BLOG KEZIA SALSABILA PUTRI LAINNYA

Bulan Juni lalu

Namaku Nayanika Quella, tinggal di kota orang bukan hal yang mudah bagiku, Orangtua ku tinggal di Bekasi, sedangkan Aku di Kota Yogyakarta, bukan tanpa sebab Aku tinggal beda Kota dengan Orangtua, Aku kuliah di salahsatu universitas ternama yang berada di Kota Jogja.Ibu ku meninggal ketika melahirka...

Read More

KEZIA SALSABILA PUTRI 23:41:49 31-10-2021

ARSIP

  • November 2021(15)
  • Oktober 2021(15)
  • November 2020(7)
  • Oktober 2020(10)
  • September 2020(9)
  • Agustus 2020(3)
  • Juli 2020(1)
  • Juni 2020(2)
  • Mei 2020(4)
  • April 2020(12)
  • Maret 2020(83)
  • April 2017(1)
  • Januari 2017(1)
  • Oktober 2016(1)
  • Desember 2015(5)
  • November 2015(1)
  • Oktober 2015(1)
  • September 2015(2)
  • Agustus 2015(1)
  • Juli 2015(1)
  • Mei 2015(1)
  • April 2015(1)
  • Maret 2015(1)
  • Desember 2014(2)
  • November 2014(1)
  • Oktober 2014(11)
  • September 2014(6)
  • Agustus 2014(1)
  • Juni 2014(2)
  • April 2014(2)
  • Maret 2014(1)
  • Desember 2013(1)
  • Oktober 2013(3)
  • September 2013(1)
  • Juni 2013(1)
  • Maret 2013(26)
  • Februari 2013(38)
  • Januari 2013(8)
  • Desember 2012(23)
  • November 2012(8)
  • Juni 2012(29)
  • Mei 2012(17)
  • April 2012(248)
  • Maret 2012(436)
  • Februari 2012(215)
  • Januari 2012(486)
  • Desember 2011(647)
  • November 2011(39)
  • Oktober 2011(272)
  • September 2011(81)
  • Agustus 2011(115)
  • Juli 2011(153)

PENULIS

  • NUR AZIZAH(430)
  • SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
  • ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
  • UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
  • Naufal Rasyid(107)
  • RISA ANJANI(106)
  • MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
  • NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
  • Fauzi Firdaus(47)
  • ALI SYAUQI(46)
  • ELITA AVIANTI DARMA(43)
  • FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
  • NABILA ISNAENI AMALIA(38)
  • RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
  • ANDHIKA FIRDAUS(28)
  • ADAM RAMADHAN(26)
  • RINDANG NOOR ALIFA(25)
  • HERI SUHARSO(25)
  • RUSMIATI(24)
  • ANITA PUJI ASTUTI(18)

SMP NEGERI 7 BOGOR

SMP NEGERI 7 BOGOR

  • Homepage
  • Informasi Sekolah
  • Profil Sekolah
  • Kegiatan
  • Prestasi Sekolah
  • Sarana Sekolah
  • Sumber Daya Manusia
  • Gerakan Literasi Sekolah

Blog

  • Blog Guru
  • Blog Siswa
  • Blog Ekskul
  • Blog OSIS

Sambutan Kepala Sekolah

Assalamualaikum Wr.WbPuji syukur kehadirat Allah SWT atas karunianya SMP Negeri 7 Bogor dapat menyajikan informasi melalui website sekolah ini.Di era global dan pesatnya teknologi informasi, keberadaa...Read More

© SMP NEGERI 7 BOGOR. All rights reserved.