Blog Siswa
Annabeth Van Derk
Den
Haag, 22 Juni 1925, lahir seorang bayi perempuan mungil dari keluarga Van Derk.
Bayi itu bernama Annabeth Van Derk. Keluarga Van Derk amat bersuka cita atas
kelahiran Annabeth. Tak terkecuali putra sulung mereka—Arthur Van Derk. Sebagai
kakak, ia yang paling antusias ketika mendengar kabar kelahiran adiknya.
Matanya berbinar ketika menatap adik
bayinya itu. Ia tak henti-henti mencubiti pipinya dan mengelus kepala adiknya.
Arthur Van Derk merupakan orang paling bahagia hari itu.
Bayi Annabeth dianggap sebagai bayi pembawa berkah bagi keluarga Van Derk. Nyonya Van Derk yang sempat begitu sedih dan terpukul akibat kematian ayahnya tampak kembali bersemangat karena kelahiran puteri mungilnya. Bisnis Tuan Van Derk semakin berkembang, bahkan sampai ke Hindia-Belanda. Arthur yang pendiam tampak lebih ceria karena kehadiran adiknya itu.
Sore itu, Arthur dan Annabeth kecil sedang bermain di halaman belakang. Sangat jarang melihat Arthur tertawa begitu lepas. Nyonya Van Derk menatap kedua malaikat kecilnya itu sambil tersenyum haru. Putrinya itu benar-benar membawa cahaya baru di tengah keluarga Van Derk. Berbeda dengan Arthur yang pendiam dan pasif, Annabeth merupakan gadis yang periang, ramah, dan aktif. Ia juga menularkan kebahagiaan dan kehangatan kepada orang-orang di sekitarnya.
“Arthur, kenapa kau jarang sekali tersenyum?” tanya Annabeth pada suatu hari. Arthur menatap adiknya dengan manik birunya yang teduh. “Kau tahu? Sebenarnya saat ini aku sedang tersenyum, kau saja yang tidak menyadarinya.” Annabeth melotot. Ia mengamati kakaknya dengan seksama. “Bohong! Kau tidak tersenyum sama sekali, Arthur!” ujar gadis itu tidak terima. Senyum Arthur mengembang, ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi adik kecilnya itu. Senyum Annabeth ikut mengembang, “Nah, itu baru senyum yang benar, Arthur.” Arthur kembali tersenyum tipis sambil membelai rambut cokelat Annabeth.
“Kau tahu, Beth? Tidak tersenyum bukan berarti tidak bahagia, terkadang orang memiliki cara masing-masing untuk mengekspresikan perasaannya.” Annabeth melipat keningnya, “Lantas, bagaimana caramu untuk mengekspresikan perasaanmu?” tanya Annabeth.
Arthur menarik gadis itu ke dalam pelukannya, “Dengan memelukmu—itu mengekspresikan kebahagiaan sekaligus rasa syukurku karena telah diberikan seorang adik kecil yang cantik dan baik hati,” bisik Arthur tulus. Annabeth tersenyum, “Aku menyayangimu, Arthur,” bisik gadis itu. “Aku menyayangimu lebih dari apapun.” Arthur mempererat pelukannya.
Keesokan paginya, kedua orangtuanya membangunkan Arthur yang masih terlelap dalam mimpi-mimpinya. “Arthur, kami akan pergi untuk mengurus bisnis, tolong jaga adikmu.” Kedua orangtuanya berpesan. Arthur menguap, ia sudah terbiasa ditinggalkan untuk urusan bisnis.
“Berapa lama kalian akan pergi?” tanya Arthur.
“Kurasa lebih dari sebulan,” jawab ayahnya. Mata Arthur melebar, seluruh kantuknya menghilang saat itu juga. Ia menatap kedua orangtuanya tak percaya. “Lama sekali, ke mana kalian akan pergi?”
“Kami akan pergi ke Hindia-Belanda, Arthur. Kami akan segera kembali begitu urusan kami selesai. Tolong jaga Annabeth. Kami tidak tega membangunkannya sepagi ini,” ucap ibunya.
Arthur membuang mukanya, menyembunyikan kilatan amarah dan kesedihan di matanya. Orangtuanya memang sering bepergian untuk bisnis. Tapi mereka tidak akan pergi lebih dari dua minggu. Ia agak sedih ketika mendengar bahwa orangtuanya akan pergi jauh sekali. Namun ia tidak berniat menahan, atau membantah orangtuanya. Ia hanya mengangguk singkat, kemudian kedua orangtuanya menghilang di balik pintu kamar. Arthur menghela napas berat, ia sudah tak berniat untuk melanjutkan tidur. Akhirnya ia bangkit dan mandi.
Usai mandi, Arthur pergi ke kamar adiknya. Adiknya tampak masih terlelap di balik selimut. Arthur mengguncang tubuh mungilnya. Gadis itu mengerang dan berbalik sambil merapatkan selimutnya.
“Beth, cepat bangun! Jangan malas! Hari sudah pagi.” Arthur kembali mengguncang tubuh adiknya. Annabeth membuka matanya, “Aku masih mengantuk, lagipula ini masih sangat pagi, Arthur,” protes Annabeth.
“Kau tidak mau ikut denganku berkeliling kota?” tanya Arthur. Mata Annabeth langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangkit dan meminta pengasuhnya untuk memandikannya. Arthur hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya.
Usai sarapan, Arthur mengeluarkan sepeda hitamnya dari gudang. Annabeth melompat kegirangan ketika tahu akan dibonceng oleh kakaknya. Sepeda hitam itu melaju melewati rumah-rumah, toko-toko, dan taman-taman. Annabeth tertawa begitu girang. Sekali-kali ia menyapa orang yang ia kenal dengan riang. Tanpa terasa, hari semakin sore. Langit berubah menjadi jingga kemerah-merahan.
“Indah sekali, Arthur!” pekik Annabeth kagum ketika melihat matahari yang perlahan meluncur ke kaki langit. Arthur tersenyum tipis, “Apakah kau bahagia?” tanya Arthur.
“Aku sangat bahagia!! Rasanya aku ingin berteriak karena kesenangan!” ujar Annabeth girang. “Tetaplah menjadi Annabeth yang periang, dan ramah,” bisik Arthur. Suaranya tenggelam di balik bisingnya jalanan, sehingga Annabeth tak mendengarnya. Tapi tak apa, ia hanya ingin adiknya bahagia.
Sepeda hitam mereka berhenti di rumah keluarga Van Derk. Nina—pengasuh mereka tampak menunggu mereka dengan cemas.
“Tuan, Nona, kalian benar-benar membuatku khawatir!” ujar gadis itu cemas. Ia menggendong Annabeth dan membawanya ke kamar mandi. Arthur pergi ke kamarnya, ia ingin segera merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan, namun ia tidak pernah sesenang ini sebelumnya.
Malamnya, Annabeth menghampiri Arthur yang tengah membaca buku. Ia langsung naik ke pangkuan kakaknya dan merecoki ketenangan Arthur.
“Apa yang kau baca, Arthur?” tanya Annabeth.
“Buku,” jawab Arthur singkat.
` “Keraskan suaramu, Arthur. Aku ingin mendengar bacaan yang kau baca,” rengek Annabeth. Sebenarnya, ia sudah bisa membaca patah-patah, namun ia memang hanya ingin mengganggu kakaknya.
“Hantu itu mendekat ke arah gadis yang tengah terlelap, dan mencekiknya!” Arthur seolah mengeraskan bacaannya, padahal ia hanya mengada-ada untuk menakuti adiknya. Annabeth menjerit, namun kemudian memelototi kakaknya. “Kau berbohong, Arthur!” protes gadis itu kesal. Arthur terkekeh melihat ekspresi kesal adiknya.
“Aku sedang membaca buku pelajaran, Beth. Kau akan bosan jika mendengarnya,” jelas Arthur. Annabeth melipat dahinya, “Buku pelajaran yang sering kau bawa ke sekolah?” tanya Annabeth polos. Arthur mengangguk.
“Apakah sekolah itu menyenangkan, Arthur?” tanya Annabeth tiba-tiba. Raut wajah Arthur berubah muram. Ia tidak terlalu menyukai pengalaman-pengalamannya di sekolah. Menyadari perubahan raut wajah kakaknya, Annabeth buru-buru menunduk merasa bersalah, “Sepertinya tidak menyenangkan, ya.”
Arthur menghela napas, “Mungkin bagi penyendiri sepertiku, sekolah benar-benar tempat paling menyebalkan di Netherland. Tapi, untuk seorang gadis cantik yang baik dan rendah hati sepertimu, kurasa sekolah itu menyenangkan. Kau akan mendapatkan banyak teman di sana, dan kau akan disukai oleh banyak guru.” Arthur tersenyum pahit membayangkan pengalaman-pengalamannya di sekolah.
Mata biru Annabeth melebar, “Benarkah? Kapan aku akan sekolah, Arthur?” tanya Annabeth. “Ketika kau sudah besar,” jawab Arthur. Annabeth mencebikkan bibirnya, “Kurasa, aku tidak besar-besar,” keluh gadis itu. “Tenang saja, kau pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati.” Arthur berusaha menenangkan gadis itu.
Annabeth menguap, “Arthur, aku mengantuk dan aku merindukan mama.” Arthur menggendong adik kecilnya menuju kamar. Ia membaringkan gadis itu di tempat tidur, kemudian mematikan lampu.
“Arthur!” bisik Annabeth tiba-tiba. “Temani aku tidur, aku takut!” ujar gadis itu masih berbisik. Dahi lebar Arthur mengerut kebingungan.
“Beberapa hari belakangan ini, ada hantu yang mencekikku. Dadaku sakit seperti terbakar dan rasanya sesak sekali. Mereka benar-benar menyeramkan, Arthur.” Annabeth berbisik ketakutan. Mata Arthur melebar, ia buru-buru memindahkan Annabeth ke kamarnya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada adiknya.
Annabeth terkejut melihat jendela besar di kamar Arthur. “Arthur! Sepertinya hantu-hantu itu berasal dari kamarmu!” ujar Annabeth sambil menunjuk jendela itu ketakutan. Ia memeluk Arthur erat-erat. Arthur menutup jendela itu dengan tirai, kemudian menenangkan adiknya. Kedua kakak-beradik itu akhirnya terlelap karena kelelahan.
Tengah malam, Arthur terbangun mendengar tangisan adiknya. “Arrgh, Arthur! Sakit sekali! Tolong aku, Arthur!! Aaaaa!!” Annabeth mulai menjerit-jerit sambil memegangi dadanya. Dengan panik, Arthur buru-buru mencari pengasuhnya.
“Nina! Nina!” Arthur berteriak-teriak kepanikan. Nina berlari panik menghampirinya.
“Ada apa, Tuan?” tanya gadis itu panik.
“Annabeth, sesak napas! Kurasa penyakitnya serius, Nina! Apa yang harus kulakukan?!” tanya Arthur panik. Wajahnya pias ketakutan. Nina buru-buru menggendong Annabeth dan menelepon rumah sakit.
Akhirnya Annabeth mendapatkan penanganan di ruang gawat darurat. Arthur menunggu dengan harap-harap cemas. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada adik kecilnya yang manis. Di dalam ruangan, tubuh Annabeth dipasangkan selang-selang.
Seorang dokter keluar dengan wajah muram. Lengkap sudah kecemasan Arthur. Dokter itu menatap Arthur iba. “Aku ingin berbicara dengan orangtuamu, Nak,” ucap dokter itu. Arthur terdiam sejenak, “Orangtuaku sedang pergi ke Hindia-Belanda. Kurasa mereka baru akan tiba bulan depan,” jawab Arthur.
“Kalau begitu, biarkan aku bicara dengan pengasuhmu.” Dokter itu berlalu menemui Nina. Arthur berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka. Ia melihat, Nina mulai menangis. Arthur menghela napas, sepertinya adiknya menderita penyakit yang cukup serius.
“Apa yang terjadi, Nina?” tanya Arthur setelah dokter itu pergi. Nina masih terisak, tubuhnya sampai berguncang karena isakannya. Arthur mengelus pundak Nina—berusaha untuk menenangkan wanita berambut merah itu.
“Apa yang harus kukatakan pada Nyonya?” tanya Nina kebingungan.
“Memangnya apa yang terjadi pada Annabeth, Nina?” tanya Arthur mulai panik.
“Jantungnya lemah, tadi ia mengalami serangan jantung akibat kelelahan.” Nina menjelaskan disela-sela tangisnya. Kaki Arthur seolah kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuhnya. Ia terduduk lemas di samping Nina. Tangannya gemetaran, wajahnya pias dan tubuhnya dingin. Tak ada air mata yang keluar, hanya ada perasaan bersalah dalam benaknya. Ia mulai menjambak rambut pirangnya—ia biasa melakukannya ketika ia frustasi atau kebingungan.
Nina yang menyadari perubahan pada Tuan Mudanya buru-buru memeluk anak laki-laki itu. “Bukan salahmu, Tuan. Bukan salahmu. Ini semua sudah kehendak Tuhan, Tuan. Sama sekali bukan salahmu.” Nina mendekapnya dan mengelus-elus kepalanya. Merapikan rambut pirangnya yang kini berantakan. Arthur memejamkan mata, berusaha menenangkan pikirannya yang kalut.
13 April 1931, Annabeth Van Derk menderita penyakit serius, tubuhnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sementara kakaknya menunggunya dengan harap-harap cemas.
***
“Arthur, makanan di sini tidak enak. Aku rindu sup buatan mama,” rengek Annabeth. “Cepatlah sembuh, nanti akan kubuatkan kue kering kesukaanmu,” jawab Arthur datar. Ia sedang sibuk dengan buku bacaannya.
“Memangnya kau bisa memasak?” ejek Annabeth. Arthur hanya mengangkat bahunya tak peduli. Ia tak berminat mendebat adiknya sekarang. Ia hanya ingin adiknya segera sembuh seperti sediakala.
“Arthur, kapan aku bisa pulang? Aku ingin bersepeda denganmu lagi.” Lagi-lagi Annabeth kembali merengek. “Ketika kau sudah sembuh,” jawab Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibaca. Annabeth menggembungkan pipinya.
“Aku bosan, Arthur. Kenapa aku sakit?” tanya Annabeth untuk yang kesekian kalinya. Akhirnya, Arthur menutup bukunya dan menatap Annabeth datar. “Jika kau sakit, artinya kau akan tumbuh dewasa. Sebentar lagi kau berulang tahun, lho.” Arthur kembali mengarang kebohongan untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
“Benarkah?! Artinya, sebentar lagi aku bisa pergi ke sekolah bersamamu?!” tanya gadis cilik itu antusias. Arthur hanya mengangguk ragu-ragu. Hening, Arthur kembali sibuk dengan bukunya sementara Annabeth tampak memikirikan pertanyaan apa lagi yang akan ia lontarkan pada kakaknya.
“Arthur, aku rindu mama dan papa ...” bisik Annabeth lirih. Arthur menatap mata Annabeth yang mulai meredup. Perlahan, darah mengalir dari hidung mancungnya. Arthur melotot, ia paling membenci darah. Dengan panik ia menyeka darah dari hidung adiknya menggunakan sapu tangan. Annabeth menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak apa-apa, Arthur. Aku baik-baik saja.” Perlahan air mata mulai mengalir dari pipi adiknya. Arthur berteriak memanggil suster yang ada di sana. Sementara Annabeth menangis semakin keras, “Sakit sekali, Arthur. Sakit sekali!! Kenapa mama dan papa tidak kunjung datang, Arthur?! Kenapa?! Apa mereka tidak kasihan padaku yang sedang sakit?! Apa mereka tidak lagi menyayangiku?! Jawab aku, Arthur!!” Annabeth menangis semakin keras, layaknya seorang anak kecil yang merengek dibelikan balon. Arthur hanya bungkam, menahan sesak di dadanya, ketika ia melihat adik kecilnya itu menangis kesakitan, menderita.
Beberapa orang suster sudah menangani Annabeth, kini Arthur duduk di luar ruangan. Wajahnya muram, rambutnya berantakan, dan kemejanya kusut. Nina berlari menghampiri Arthur. Dengan napas terengah-engah gadis itu menatap Arthur dengan mata berbinar-binar.
“Kabar baik, kapal yang ditumpangi Tuan dan Nyonya sudah berlabuh di Rotterdam. Mungkin mereka akan tiba besok lusa.” Nina menjelaskan dengan napas terengah-engah. Arthur hanya menanggapinya tanpa antusias. Semangatnya telah menguap, seiring menurunnya kesehetan Annabeth.
Arthur masuk ke dalam ruangan. Annabeth kini tengah berbaring, tatapan matanya kosong, rona merah menghilang dari pipi gembilnya yang kini menjadi tirus, rambut cokelatnya yang indah semakin menipis, dan bibir tipisnya kini mengering.
“Beth, mama dan papa akan tiba besok lusa.”
“Benarkah? Mereka akan kembali?” tanya Annabeth lemah.
“Ya, Beth. Mereka kembali, mereka menyayangimu, Beth.” Annabeth tersenyum, pipinya tampak kembali merona. “Aku senang sekali, Arthur. Kupikir, mereka sudah melupakanku.” Kini, gadis manis itu terkekeh kegirangan. Arthur hanya menatap adiknya dengan mata kosongnya. Sama sekali tidak habis pikir bagaimana adiknya itu bisa tertawa ketika ia sedang menahan sakit sekaligus. Arthur membelai rambut cokelat adiknya lembut.
“Kau benar-benar membuatku cemas,” ucap Arthur datar.
Keesokan lusa, kedua orangtuanya benar-benar kembali. Mereka langsung pergi ke rumah sakit tempat Annabeth dirawat. Setibanya di sana, mereka disambut oleh dokter yang menangani Annabeth waktu itu. Namun pembicaraan itu tampaknya semakin serius, perlahan Nyonya Van Derk mulai terisak di pelukan suaminya.
“Apa yang harus kita lakukan, Hendry? Malaikat kecil kita sakit, aku tidak mau ia meninggalkan kita, Hendry.” Nyonya Van Derk menangis terisak. Suaminya menepuk-nepuk pundaknya menenangkan.
“Menurut perkiraan kami, puteri anda tidak hanya mengalami lemah jantung, tapi ada kelainan pada darahnya. Peralatan di rumah sakit ini tidak memadai, kami akan merujuknya ke rumah sakit besar di Amsterdam,”ucap dokter itu. Tangisan Nyonya Van Derk semakin pecah.
21 Mei 1931, Annabeth Van Derk dipindahkan ke Amsterdam.
***
25 Desember 1931, sudah berbulan-bulan semenjak Annabeth dipindahkan ke Amsterdam.
Arthur Van Derk duduk di depan perapian sambil mengunyah kue jahe buatan omanya. Terdengar samar-samar suara tawa dari luar rumahnya. Ini malam Natal, dan sepertinya hanya rumah keluarga Van Derk yang sepi malam itu. Arthur melalui Natalnya sendirian tahun ini. Nina ikut kedua orangtuanya ke Amsterdam untuk merawat Annabeth. Arthur bersikeras untuk menetap di Den Haag. Bukannya ia tidak mencemaskan adiknya, tetapi melihat keadaan Annabeth yang semakin menderita hanya membuat hatinya semakin sakit.
Tangan kanannya tampak meraba-raba piring yang sudah kosong. Hanya tersisa remah kue kering di piring itu. Arthur menghela napas, ia menyimpan bukunya di samping piring dan beranjak ke kamarnya. Sepertinya sudah saatnya ia beristirahat.
Tiba-tiba seseorang mengetuk-ngetuk pintu dan memanggilnya. Arthur sudah hafal betul kalau itu adalah Nina. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di Amsterdam. Karena, sebelumnya kedua orangtuanya sudah berjanji untuk merayakan Natal bersamanya, tapi sudah lewat tengah malam mereka tidak kunjung tiba.
Dengan malas, Arthur membukakan pintu dan mendapati Nina yang terengah-engah. Wajahnya sampai memerah dan keringat mengalir di dahinya. Arthur menatap pengasuhnya itu kebingungan.
“Se, selamat Natal, Tuan. Nyonya menitipkan syal rajutannya untukmu. Annabeth tiba-tiba mengalami pendarahan hebat, jadi mereka tak bisa kembali ke Den Haag malam ini.” Arthur hanya menerima syal itu tanpa minat dan berbalik.
“Masuklah, Nina. Di luar dingin. Selamat Natal, juga. Aku hanya berharap, Annabeth cepat sembuh seperti sediakala,” ucap Arthur datar, kemudian ia berlalu ke kamarnya.
Tak ada yang tahu bahwa setiap malam, Arthur Van Derk menangis sendirian dan berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan adiknya.
***
Arthur Van Derk terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya ia ketika mendapati Annabeth tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia mengenakan gaun putih yang sangat indah. Tak ada wajah pucat, pipi tirus dan rambut yang rontok. Annabeth benar-benar cantik saat itu. Rambut cokelatnya tampak terurai indah, wajahnya berseri-seri, rona merah menghiasi pipinya yang gembil. Tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu pernah sakit sebelumnya.
“Beth? Kau sudah sembuh?” tanya Arthur tak percaya.
“Ya, Arthur. Tubuhku benar-benar terasa ringan.” Annabeth berputar-putar memamerkan gaun putihnya yang mengembang.
“Kau jahat, Arthur. Jarang sekali kau menjengukku.” Annanbeth mencebikkan bibirnya.
“Maaf ...”
“Kenapa wajahmu tetap datar? Apa kau tidak senang aku sembuh?” tanya Annabeth kesal. Arthur bangkit dan menghampiri adiknya di ambang pintu. Ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Arthur memeluk Annabeth begitu erat, seolah tak ingin kehilangan gadis itu lagi.
“Tersenyumlah, Arthur. Kau sangat tampan ketika tersenyum,” bisik Annabeth lembut. Arthur mengembangkan senyuman paling lebarnya sepanjang masa.
“Nah, itu baru senyuman yang sempurna, Arthur.”
“Aku menyayangimu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi,” bisik Arthur.
“Arthur ... aku mengantuk. Dan aku sudah tak takut pada jendela kamarmu.” Arthur terkekeh, ia menuntun adiknya ke atas tempat tidur. Annabeth membaringkan tubuh mungilnya dan menarik selimut.
“Arthur, aku sangat menyayangimu. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena telah memberiku kakak yang baik dan tampan sepertimu. Tersenyumlah, Arthur. Berbahagialah, meski dunia tak berpihak padamu. Dan jangan menangis! Aku yang sakit saja tak menangis. Aku tahu kau sering menangis di kamar diam-diam. Dank, Arthur. Meskipun kau menyebalkan dan pelit, tapi aku sangat menyayangimu. Vaarwel, Arthur. Ik hou van jou ...”
Annabeth memejamkan matanya, perlahan sosoknya mulai memudar, dan menghilang.
Arthur terbangun dari tidurnya. Ia merasakan jejak air mata di wajahnya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Bahkan ia masih merasakan pelukan adiknya. Tiba-tiba Nina masuk ke kamarnya tanpa permisi.
“Tuan! Tuan! Nona ... Nona ...”
“Apa yang terjadi pada Beth, Nina?!” tanya Arthur panik. Berbagai prasangka bermunculan di pikirannya.
“Nona telah tiada, Tuan ... Nona yang malang ...” Tangis Nina pecah. Ia terduduk di lantai kamar Arthur lemas. Bagaimanapun, ia telah mengasuh Annabeth sejak bayi. Ia sudah menganggap gadis kecil itu sebagai adiknya. Nina menangis meraung-raung, meratapi kepergian anak asuhnya. Arthur hanya tertegun, tak ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya. Diam-diam hati kecilnya menjerit, berharap bahwa ini hanyalah mimpi.
Amsterdam, 27 Desember 1931, Annabeth Van Derk melepas penderitaannya, dan berbaring damai di pangkuan Tuhan. Sementara Arthur Van Derk kehilangan cahayanya, kini ia tengah berjalan sendirian di tengah kegelapan. Kesepian, hilang arah, dan kebingungan.
***
BLOG Amina Yusra LAINNYA
Annabeth Van Derk
Den Haag, 22 Juni 1925, lahir seorang bayi perempuan mungil dari keluarga Van Derk. Bayi itu bernama Annabeth Van Derk. Keluarga Van Derk amat bersuka cita atas kelahiran Annabeth. Tak terkecuali putra sulung mereka—Arthur Van Derk. Sebagai kakak, ia yang paling antusias ketika mendengar kabar...
Read MoreAmina Yusra 14:33:51 17-03-2020
ARSIP
- November 2021(15)
- Oktober 2021(15)
- November 2020(7)
- Oktober 2020(10)
- September 2020(9)
- Agustus 2020(3)
- Juli 2020(1)
- Juni 2020(2)
- Mei 2020(4)
- April 2020(12)
- Maret 2020(83)
- April 2017(1)
- Januari 2017(1)
- Oktober 2016(1)
- Desember 2015(5)
- November 2015(1)
- Oktober 2015(1)
- September 2015(2)
- Agustus 2015(1)
- Juli 2015(1)
- Mei 2015(1)
- April 2015(1)
- Maret 2015(1)
- Desember 2014(2)
- November 2014(1)
- Oktober 2014(11)
- September 2014(6)
- Agustus 2014(1)
- Juni 2014(2)
- April 2014(2)
- Maret 2014(1)
- Desember 2013(1)
- Oktober 2013(3)
- September 2013(1)
- Juni 2013(1)
- Maret 2013(26)
- Februari 2013(38)
- Januari 2013(8)
- Desember 2012(23)
- November 2012(8)
- Juni 2012(29)
- Mei 2012(17)
- April 2012(248)
- Maret 2012(436)
- Februari 2012(215)
- Januari 2012(486)
- Desember 2011(647)
- November 2011(39)
- Oktober 2011(272)
- September 2011(81)
- Agustus 2011(115)
- Juli 2011(153)
PENULIS
- NUR AZIZAH(430)
- SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
- ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
- UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
- Naufal Rasyid(107)
- RISA ANJANI(106)
- MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
- NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
- Fauzi Firdaus(47)
- ALI SYAUQI(46)
- ELITA AVIANTI DARMA(43)
- FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
- NABILA ISNAENI AMALIA(38)
- RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
- ANDHIKA FIRDAUS(28)
- ADAM RAMADHAN(26)
- RINDANG NOOR ALIFA(25)
- HERI SUHARSO(25)
- RUSMIATI(24)
- ANITA PUJI ASTUTI(18)