Blog Siswa
kebaikan dan kebatilan
RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (??? ???? ???? ? ???) pernah mengingatkan kita, “Kamu kini jelas atas petunjuk dari Rabbmu, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan berjihad di jalan Allah.” Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih ke situ dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan al-Qur’an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam.” (HR. Al-Hakim dan At-Tirmidzi).
Dalam sejarahnya, para dai dan muballigh sejati adalah mereka yang kehidupannya sangat sederhana. Identitas utamanya, jauh dari kemewahan dan gemerlapnya hidup.
Amar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Allah merupakan tugas keummatan yang sangat mulia. Al-Quran mengatakan;
????????? ???????? ??????? ????????? ????? ????????? ????????????? ?????????????? ???????????? ???? ?????????? ????????????? ???? ??????????????
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maUruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran: 104)
Menegakkan kebenaran dalam konteks ini berarti harus disertai dengan mencegah tindakan munkar. Demikian sebaliknya, bila kebenaran telah tegak maka kita dituntut memberantas kemungkaran. Sekecil apapun kebenaran yang sudah mulai berkecambah dalam jiwa, maka segeralah diekspor ke alam sekelilingnya. Agar dia tumbuh lebih besar, berkecambah dan menjadi semarak. Pada proses itu berarti ada terdapat pertarungan antara dua kutub kejahatan dengan kebaikan, al-Haq dan al-Batil, hukum Tuhan versus hukum syetan.
Pada kenyataannya tugas ini amat sangat luar biasa berat. Seiring dengan arus materialisme yang kian merajalela, jumlah orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab turut menegakkan dakwah Islam semakin menyusut. Tugas dakwah menjadi pilihan nomor sekian.
Tugas misi ini memang menuntut banyak pengorbanan, perjuangan yang tak kenal lelah, mental yang kuat, jiwa yang kokoh, kesabaran yang ekstra, tahan terhadap gunjingan, siksaan, cemoohan dan berbagai ujian penderitaan lahir-bathin yang lain.
Dalam catatan sejarahnya, para dai dan muballigh sejati adalah mereka yang kehidupannya sangat sederhana. Identitas utamanya, jauh dari kemewahan dan gemerlapnya hidup. Mereka memilih demikian bukan karena tidak menyukainya, akan tetapi untuk selalu menjaga kebersihan dirinya dan cita-citanya. Agar selalu murni dan tidak tergelincir oleh bujuk rayu syetan yang sangat halus dan setia mengintainya setiap waktu.
Kalaupun ada peluang untuk menjadi kaya, mereka tidak secara rakus memanfaatkannya. Bahkan Imam Malik rela dipenjara dan disiksa oleh Penguasa karena penolakannya ditunjuk menjadi hakim. Padahal tugas sebagai hakim tidak sedikit menjanjikan uang dan harta benda. Posisi pada jabatan ini memungkinkan orang bisa dengan mudah meraup kekayaan.
Sebaliknya, dari jaman ke jaman kecintaan kepada harta benda semakin merajalela. Misalnya, pada pilihan pendidikan. Berapa banyak dari remaja kita yang berjuta-juta itu memilih spesialisasi sekolahnya disertai niatan menegakkan agama Allah di masyarakatnya? Berapa banyak dari remaja kita yang dari waktu ke waktu dalam jam belajarnya menetapkan keprihatinan hatinya? Media massa kita juga rupanya ikut membangun masyarakat materialistik dengan muatan-muatannya yang lebih banyak menumpulkan hati nurani manusia. Banyak media bukan menjadikan masyarakat lebih beriman, bahkan semakin jauh dari agama dan keyakinannya.
Seiring dengan itu generasi kita terus dibujuk dan dirayu untuk masuk ke dalam kehidupan hedonis. Kehidupan yang sebenarnya membuat renggang hubungan kekerabatan, silaturrahmi, bersaudaraan, penuh ego dan kehilangan kehalusan-kehalusan jiwa. TV, film dan sinetron kita mengajarkan hura-hura, kebebasan hidup dan dendam.
Pada akhirnya, tatanan baru di era Pasar Bebas ini, akhirnya hanya ingin menciptakan komunitas kehidupan masyarakat yang berkarakter ugal-ugalan. Masyarakat yang diinginkannya adalah masyarakat seperti yang kita saksikan di Barat yang serba bebas, pesat secara lahiriyah tetapi bobrok dan hancur nilai moral-kemanusiaannya.
Masyarakat Indonesia akan digiring ke sana agar kehilangan identitasnya sebagai muslim sejati. Orang lain yang akan mencapkan identitas baru di kening kita. Bukan kita sendiri yang membangun jiwa raga dan akal budi kita.
Semakin banyaknya orang yang mengalami stres, putus asa, lemah harapan, dan bahkan sampai pada maraknya bunuh diri belakangan merupakan dampak dari cara pandang yang salah itu. Ketika dollar dan rupiah sudah diagungkan, harta dan hajatan hidup diutamakan, akan tetapi berbarengan dengan itu semuanya hilang dibalik bumi alias tidak diperoleh, maka yang muncul adalah kekecewaan. Kekecewaan yang berhari-berminggu dan berbulan dan entah sampai kapan akan berakhir ini, akan memunculkan manusia-manusia berputus asa. Sebagaimana janji Allah sendiri.
?????????????????? ???? ?????????? ?????????? ????? ?????????? ??????????? ??????????? ???????????
“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: As Sajdah: 21)
Saham utama yang bisa kita tanamkan, agar segala keadaan ini tidak menggiring terus generasi di bawah kita ke jurang kesalahan, ialah tidak pernah berhenti beramar ma’ruf nahi munkar. Ayo kita mulai, paling tidak dari diri kita, keluarga kita, tetangga, kantor kita dan lingkungan sekitar.*
BLOG 1408795414 LAINNYA
Perjalanan Hidup Bisa Berubah - ubah seperti rotasi Bumi, benarkah ?
Asalamualikum.Wr.Wb. Kepada seluruh yang membaca ini, tolong menyimak secara bijak. Pernah anda menyadari bahwa hidup adalah suatu pilihan yang sulit. Hidup memang sulit bagi yang menganggap sulit karena h...
Read More1409979248 21:50:55 05-04-2015
kebaikan dan kebatilan
RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (??? ???? ???? ? ???) pernah mengingatkan kita, “Kamu kini jelas atas petunjuk dari Rabbmu, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan berjihad di jalan Allah.” Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Kemudian muncul di kalangan ka...
Read More1408795414 19:57:51 13-09-2014
ARSIP
- November 2021(15)
- Oktober 2021(15)
- November 2020(7)
- Oktober 2020(10)
- September 2020(9)
- Agustus 2020(3)
- Juli 2020(1)
- Juni 2020(2)
- Mei 2020(4)
- April 2020(12)
- Maret 2020(83)
- April 2017(1)
- Januari 2017(1)
- Oktober 2016(1)
- Desember 2015(5)
- November 2015(1)
- Oktober 2015(1)
- September 2015(2)
- Agustus 2015(1)
- Juli 2015(1)
- Mei 2015(1)
- April 2015(1)
- Maret 2015(1)
- Desember 2014(2)
- November 2014(1)
- Oktober 2014(11)
- September 2014(6)
- Agustus 2014(1)
- Juni 2014(2)
- April 2014(2)
- Maret 2014(1)
- Desember 2013(1)
- Oktober 2013(3)
- September 2013(1)
- Juni 2013(1)
- Maret 2013(26)
- Februari 2013(38)
- Januari 2013(8)
- Desember 2012(23)
- November 2012(8)
- Juni 2012(29)
- Mei 2012(17)
- April 2012(248)
- Maret 2012(436)
- Februari 2012(215)
- Januari 2012(486)
- Desember 2011(647)
- November 2011(39)
- Oktober 2011(272)
- September 2011(81)
- Agustus 2011(115)
- Juli 2011(153)
PENULIS
- NUR AZIZAH(430)
- SYAFIRA NUR AMALIA HARYADI(386)
- ISMI SAVIERA ALMIRA(223)
- UMAR FAROOQ ZAFRULLAH(130)
- Naufal Rasyid(107)
- RISA ANJANI(106)
- MOHAMAD ZIDNI RIZKY(63)
- NURUL RIZKY FAKHIRA(60)
- Fauzi Firdaus(47)
- ALI SYAUQI(46)
- ELITA AVIANTI DARMA(43)
- FAUZAN AKMAL HARIZ(41)
- NABILA ISNAENI AMALIA(38)
- RADEN LILOTHA ZATTY AQMAR(29)
- ANDHIKA FIRDAUS(28)
- ADAM RAMADHAN(26)
- RINDANG NOOR ALIFA(25)
- HERI SUHARSO(25)
- RUSMIATI(24)
- ANITA PUJI ASTUTI(18)